iklan banner Honda atas

Pembagian Lapak Pasar Darurat Diundi

Pembagian Lapak Pasar Darurat Diundi

**Melibatkan Paguyuban Pasar dan UPT

KAJEN - Agar tidak menumbulkan polemik pada penempatan Pasar darurat bagi pedagang Blok G Wiradesa, akhirnya dilakukan melalui pengundian. Dengan pengundian diharapkan tidak menimbulkan kecemburuan antar pedagang untuk mendapatkan lokasi yang strategis.

Hal itu dibenarkan Kepala Bidang Pasar pada Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Pekalongan, Ida Supaati ketika di konfirmasi Radar, Rabu (14/10/2020). Menurutnya, dengan adanya pembangunan Pasar tradisional Wiradesa mulai Oktober 2020, sejak akhir September pedagang mulai pindah ke tempat pasar darurat yang telah disediakan.

"Untuk proses pemindahan pedagang mulai 28 September sampai 11 Oktober 2020 kemarin. Sedangkan untuk pemindahan kita melibatkan UPT Pasar, dan Paguyuban Pedagang Pasar setempat, " katanya.
Sedangkan untuk pemindahan pedagang pasar yang berjualan di Blok G saat ini, diakui masih dalam proses pengecekan lokasi dan verifikasi.

"Pembagian tempat dilakukan dengan cara pengundian, jadi pedagang mendapatkan nomor urut. Untuk pembagian pedagang Blok G saat ini masih dalam pembahasan di rapat," imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, Pembangunan Pasar Tradisional Wiradesa sudah dimulai. Namun untuk pembagian lapak pasar darurat kisruh. Pasalnya, pedagang blok G diminta untuk mencari tempat sendiri meskipun sudah dimintai uang Rp 50 ribu untuk pengundian.

Adapun pedagang blok G yang akan ditempatkan di lokasi Pasar Senin sampai Kamis atau Terminal Wiradesa sekitar 300 pedagang. Mereka rencana akan menempati lokasi mulai Rabu (14/10/2020). Namun Selasa (13/10/2020) para pedagang yang hendak pindahan tidak menemukan tempat, pasalnya lokasi yang disediakan sudah digunakan untuk pedagang Senin - Kamis.

Sementara pedagang yang biasa jualan Senin- Kamis yang sebelumnya diminta untuk geser ke sebelah selatan tetap kekeh tidak mau. Sehingga timbul polemik antar pedagang blok G dengan pedagang Senin Kamis.

"Dari awal sudah ada kesepakatan untuk iuran Rp 50 ribu supaya dapat nomor pengundian agar mendapat lokasi lapak. Namun sekarang pedagang tiba tiba diminta untuk mencari tempat sendiri atau ngecup lokasi," ungkap Arhan salah seorang pedagang Sosis yang biasa jualan di Blok G. (Yon)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: