iklan banner Honda atas

Dua Tahun Terhenti, Nyadran Kembali Digelar

Dua Tahun Terhenti, Nyadran Kembali Digelar

KESESI - Setelah sempat terhenti selama dua tahun akibat pandemi, tradisi nyadran jelang Ramadan di sejumlah desa di Kabupaten Pekalongan kembali digelar. Salah satunya di Desa Watupayung, Kecamatan Kesesi. Nyadran di desa ini digelar, Jumat (25/3/2022). Ratusan warga desa terlihat antusias memeriahkan acara tahunan tersebut.

Warga membawa beragam makanan dan hasil bumi, untuk dibawa menuju tempat nyadran diadakan.

Baca juga : Sempat Tak Digelar Selama Dua Tahun, Lomba Dayung Tradisional akan Kembali Digelar

Kepala Desa Watupayung, Zaeni menuturkan, puncak perayaan nyadran berlangsung di sebuah petilasan. Petilasan ini diyakini sebagai cikal-bakal keberadaan Desa Watupayung.

"Selain sebagai acara tahunan, warga desa juga perlu tahu sejarah. Di sini, lho, asal mula Desa Watupayung itu", terang Zaeni.
Peringatan nyadran di Desa Watupayung dipimpin oleh Sodikun, tokoh agama setempat.

Usai memimpin doa, Sodikun menyampaikan pesan singkat terkait dengan tradisi nyadran.

"Kita harus selalu bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Kemarin kita sudah mendapatkan ujian berat selama dua tahun, sehingga nyadran tidak bisa diselenggarakan. Alhamdulillah, tahun ini kita bisa kembali mengadakan", tutur Sodikun.

Dalam budaya Jawa, nyadran biasanya digelar beberapa waktu sebelum datangnya bulan Ramadhan atau sasi Pasa.

Lebih tepatnya, pada setiap bulan Rejeb atau Ruwah, bulan ke tujuh dan ke delapan dalam kalender Jawa.

Pelaksanaan nyadran tidak selalu sama di tiap-tiap desa.
Ada yang menyelenggarakan di tempat ibadah, dalam hal ini masjid. Ada pula yang mengadakannya di kuburan desa setempat.

Dalam kondisi normal, acara nyadran kerapkali dimeriahkan dengan pagelaran kesenian tradisional khas daerah setempat.(had)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: