Olah Sampah, Desa Kedungkebo Bangun Bioreaktor Kapal Selam
KARANGDADAP - Berawal dari problem membuang sampah dari masyarakat Desa Kedungkebo ke Tempat Pembuangan Umum (TPU) manakala sudah ditolak dan membuang kemana saja juga ditolak. Oleh karena itu Pemdes Kedungkebo menggandeng Muhammad Sobri yang merupakan pembuat produk inovasi bioreaktor kapal selam yang bisa mengubah sampah menjadi pupuk organik dan energi.
Kades Kedungkebo Irawan Eko mengatakan bahwa pada awalnya memang kepikiran untuk bagaimana mengelola sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, sehingga sampah itu tidak menjadi suatu masalah di desa kedungkebo.
"Dalam kurun waktu 1 tahun ini kami memang mulai mensosialisasikan ke masyarakat agar sampah bisa dimanfaatkan dan menjaga kebersihan lingkungan. Salah satunya dengan membuat tim kebersihan dan sudah berjalan dalam mengumpulkan dan membuang sampah ke TPU," ujarnya.
Lewat dampingan dan arahan dari relawan dulur ganjar, akhirnya dikenalkan dengan Muhammad Sobri dan berlanjut kaitannya dengan pembangunan Bioreaktor Kapal Selam di desa kedungkebo.
"Semoga peletakan batu pertama pembangunan bioreaktor kapal selam di desa kedungkebo ini bisa berjalan dengan baik sampai selesai," ucap Kades Kedungkebo, Senin Sore (26/4/2021).
Tujuannya pembangunan biorekator kapal selam sendiri untuk memberikan edukasi kepada masyarakat kedungkebo khususnya bahwa sampah itu tidak semata-mata menjijikan dan bau saja, tetapi jika dikelola dengan baik bisa mendatangkan income atau pendapatan ekonomi serta pendaparan desa juga, selain itu juga untuk menjaga kebersihan lingkungan.
"Alhammdulillah tanggapan masyarakat kedungkebo sangat baik, karena ini juga demi kebersihan lingkungan desa kedungkebo dan juga mungkin bisa menjadi kesejahteraan bersama," pungkasnya.
Kades kedungkebo juga berharap agar semua pihak bisa mendukung dan mensupport sehingga program bioreaktor kapal selam di desa kedungkebo bisa berjalan dengan baik serta masyarakat juga peduli dengan sampah yang kaitannya dengan kebersihan lingkungan.

Muhammad Sobri Inisiator produk inovasi bioreaktor kapal selam menjelaskan bahwa teknologinya ini bisa menghasilkan tiga produk yakni pupuk, energi dan dekomposer.
"BKS ini bisa mengolah sampah maupun limbah peternakan dan pertanian menjadi pupuk organik dan energi. Petani terbantu dengan hasil pupuknya dan energinya bisa digunakan seperti untuk menerangi lampu jalan," jelasnya.
Sobri juga mengapresiasi kepada para kepala desa yang mau dan berani dalam mengambil kebijakan untuk menggunakan teknologi anak bangsa ini.
"Biasanya yang dibangunkan hanya infrastrukturnya saja seperti jalan, dll. Tetapi ini juga membangun berbasis lingkungan yakni sumber daya lingkungan dan ekonomi lingkungan," tuturnya.
Teknologi BKS ini menurut sobri berperan hanya 10% saja, tetapi yang agak berat itu paska setelah teknologi ini diterapkan yaitu sosial engginering.
Yakni melatih masyarakat agar cinta lingkungan dan memberdayakan masyarakat agar bisa mengolah sampah menjadi pupuk dan energi.
"Makanya kita ada MoU untuk program BKS ini agar kedepannya bisa menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh. Terkait dengan teknologinya saya akan bertanggungjawab 100%," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
