Hama Wereng Resahkan Petani
KARANGANYAR - Serangan hama wereng meresahkan petani padi di Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar. Jika tidak tertangani dengan baik, produktivitas tanaman padi akan turun drastis, bahkan bisa mengalami gagal panen.
Perangkat Desa Kayugeritan M Puji Purwanto, Minggu (25/7/2021), mengatakan, serangan hama wereng telah menyerang sebagian besar sawah di Desa Kayugeritan. Tanaman padi tampak menguning dan jika dibiarkan produktivitasnya akan turun drastis. "Gabahnya bisa gabuk (kosong) kalau serangannya sudah parah," keluh dia.
Beberapa petani yang tanaman padinya terserang wereng di antaranya milik Sier, Doyo, Basocha, Casmadi, Rahim, Sapari, dan lainnya. "Besok rencana kami akan ke kantor penyuluh pertanian di Karanganyar untuk minta obat agar wereng bisa dikendalikan. Usia tanaman sekitar satu bulan. Semoga bisa diatasi agar tidak gagal panen," kata dia.
Sebelumnya diberitakan, harga gabah di tingkat petani anjlok. Satu kuintal gabah hanya ditebas oleh tengkulak senilai Rp 280 ribu hingga Rp 290 ribu. Harga gabah di sawah normalnya bisa di atas Rp 350 ribu.
Anjloknya harga gabah menambah beban hidup petani kecil bertambah berat. Apalagi pandemi tak juga usai. Kian menambah terpuruknya perekonomian petani kecil di desa.
Djasmani (55), petani dari Dukuh Pungangan, Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kamis (22/7/2021), mengatakan, ia menggarap sawah seluas 3500 meter persegi. Ia menanam padi jenis IR 32. Pada saat panen, lanjut dia, harga gabah di sawah dinilai tengkulak Rp 290 ribu perkuintal. Padahal harga normal bisa di atas Rp 350 ribu perkuintal.
"Kondisi padi saya lumayan bagus. Bisa panen 2 ton. Jadi saya dapat uang Rp 5,8 juta saat panenan kemarin," kata dia.
Disebutkan, total biaya produksi yang ia keluarkan sekitar Rp 4.695.000. Dengan rincian, biaya bibit IR 32 satu kantong Rp 65 ribu. Ia membutuhkan tiga kantong bibit. Sehingga biaya bibit Rp 195 ribu.
Untuk biaya pengolahan lahan, pupuk, obat-obatan, sewa traktor, dan tenaga kerja diperkirakan sekitar Rp 3.750.000. Biaya makan pekerja Rp 750 ribu. Sehingga dalam kurun waktu empat bulan masa panen padi, ia hanya mendapatkan untung sekitar Rp 1,1 juta, atau sebulan hanya memperoleh keuntungan Rp 275 ribu.
HAMA WERENG
Ia mengaku masih beruntung tidak merugi. Meskipun keuntungan yang diperolehnya sangat kecil karena harga gabah anjlok. Menurutnya, banyak petani di desanya merugi karena tanaman padinya terserang hama wereng.
"Kemarin hama wereng merebak. Banyak petani padi merugi. Seperti milik Tutur, Rahim, dan Sarniti," ungkap dia.
Djasmani yang merupakan perangkat desa ini masih bisa mengandalkan honornya. Ia tak bisa membayangkan nasib petani murni yang hanya menggantungkan hidupnya dari hasil sawahnya.
"Di tengah situasi pandemi yang serba sulit ini, banyak yang hasil sawahnya tidak cukup untuk makan saja selama sebulan. Apalagi buat modal untuk nyawah lagi," katanya. (had)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
