iklan banner Honda atas

Harga Cabai Makin Tak 'Pedas'

Harga Cabai Makin Tak 'Pedas'

**Hanya Rp 4 Ribu/Kg

KANDANGSERANG - Di tengah sulitnya perekonomian akibat pandemi Covid-19, petani cabai di Kabupaten Pekalongan justru kian terpuruk. Harga cabai saat ini turun drastis, sehingga tak sepedas rasanya.
Harga cabai rawit hanya Rp 4 ribu perkilo. Sedangkan, harga cabai keriting Rp 5 ribu perkilo. Anjloknya harga cabai di titik paling rendah ini membuat petani ngedrop. Jika dipanen rugi, tidak dipanen bisa busuk.

"Harga cabai keriting Rp 4 ribu, cabai rawit Rp 5 ribu. Anjlok sekitar dua pekan ini," tutur petani cabai dari Desa Gembong, Kecamatan Kandangserang, Dahiri (42), Selasa (1/9/2020).

Dikatakan, dalam sebulan ini harga cabai terus mengalami penurunan, dari Rp 10 ribu/kg, menjadi Rp 8 ribu/kg, dan saat ini anjlok di angka Rp 4 ribu/kg. Menurutnya, sejak menggeluti budidaya tanaman cabai selama tiga tahun terakhir, harga cabai saai ini paling rendah.

"Saya sudah pernah merasakan harga Rp 27 ribu perkilo hingga Rp 10 ribu perkilo. Saat ini paling rendah. Jika harga masih Rp 10 ribu, modal masih nutup walaupun tidak untung," kata dia.

Dikatakan, sebagai petani kecil dirinya tidak menanam cabai dalam jumlah besar. Ia hanya menanam sekitar 2 ribu bibit cabai. Dari total bibit yang ditanam itu, kata dia, sekitar 1.700 tanaman hidup.

"Saya nanam ndak hektaran. Saya nanam 2 ribu batang, yang hidup 1700 batang. Tenaga sebagian besar menggunakan tenaga sendiri. Untuk modal bibit sekitar Rp 2 juta," terang dia.

Menurutnya, dengan jumlah tanaman cabai sekitar 2 ribu batang dan harga cabai turun Rp 4 ribu, maka kerugian yang dialaminya sekitar Rp 10 juta. Jika menanam cabai lebih banyak lagi, sampai hektaran, lanjut dia, kerugiannya bisa puluhan hingga ratusan juta.

"Teman-teman do ngeluh terose mboten dipanen eman-eman, dipanen rugi tok. Saya sendiri sudah ndak merawat tanaman lagi karena saking bosen harganya rendah. Cabai yang masih ada dipanen ramai-ramai oleh warga sambil sedekah," kata dia.

Di tengah pandemi, kata dia, perekonomian tengah sulit. Petani berharap bisa mengandalkan hasil pertaniannya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Namun, di tengah pandemi, harga hasil pertanian justru anjlok. "Masa pandemi katanya disuruh banyak di rumah, makanya banyak yang mencoba bercocok tanam seperti nanam cabai tapi sayang harganya jeblok," keluh dia.

Menurutnya, musim tanam cabai kali ini hasil cabainya cukup bagus karena hama dan penyakit tanaman tidak terlalu ganas. Ia yang memiliki 1700 tanaman dan tidak dirawat maksimal saja mampu panen sekitar 8 kuintal. "Panenan bagus tapi harga anjlok," keluh dia.

Dikatakan, hasil panenan cabai biasanya dijual ke pedagang pengepul di pasar. Ia sendiri mengaku tidak tahu penyebab anjloknya harga cabai tersebut. "Informasi dari pengepul, pemasarannya kurang. Pasar biasanya ramai sekarang kurang," kata dia.

TOMAT RP 2 RIBU/KG

Sebelumnya diberitakan, di tengah pandemi Covid-19, harga sejumlah komoditas pertanian di Kabupaten Pekalongan anjlok. Padahal, produktivitas pertanian di musim kemarau ini lebih baik dibandingkan musim tanam sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: