Orderan Turun, Perajin Ilir Tetap Bertahan di Tengah Pandemi
KAJEN - Pandemi Covid-19 tidak hanya memukul industri konveksi rumahan di Desa Karangnyar, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, melainkan juga usaha turunannya, seperti perajin ilir yang bahan baku utamanya dari kain perca (sisa kain konveksi). Namun meski omset usahanya turun, para perajin ilir tetap berjuang bertahan di tengah keterbatasan akibat pandemi.
Produk kerajinan ilir (kipas kain) Desa Karangnyar ini memang sudah dikenal hingga luar daerah, dengan pasar utama adalah direct selling di kegiatan pengajian, istighosah, dan sejenisnya. Salah satu perajinnya, Badriah, pun mengakui pesanan selama pandemi turun banyak.
"Pesanan utama biasanya dari pengajian, tapi kan sekarang masih belum boleh. Ya palingan ada pesanan dari penjual pasar atau diambil pengepul," ujarnya yang telah menekuni usaha selama 40 tahun.
Karena usia, saat ini Badriah hanya mampu memproduksi 40-60 buah pesanan ilir/minggu. Ilir buatannya memang cukup dikenal, karena kualitasnya cukup bagus. "Bisanya perminggu saya dapat 40 buah itu Rp 100 ribu, kalau sebulan palingan Rp 500 ribuan, gak mesti mba," terangnya.
Selain kain perca, ilir juga menggunakan material bambu dan benang jahit. Biasanya Badriah menjual perbijinya Rp 3.000-Rp 5.000.
Di tengah sekonomi sulit karena pandemi ini, Badriah tetap berjuang agar usahanya tetap berjalan.
Badriah hanya bisa berharap mampu mempertahankan usahanya meski dengan kondisi serba susah saat ini, tentu harapan juga adanya bentuk bantuan dan dukungan dari berbagai pihak untuk membantu modal usaha untuk pengembangan bisnisnya kedepan.
"Ya harapannya tetap sehat, tetep bisa bikin ilir terus, syukur-syukur ada bantuan modal. Semoga kondisi kayak gini cepat berlalu," pungkasnya. (ap3)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
