Sudah Hampir Dua Tahun, Meski Lelah Tak Boleh Menyerah
**Melihat Perjuangan Satgas Perangi Covid-19 di Masa Pandemi
COVID-19 terus bergerak naik. Data di laman http://corona.pekalongankab.go.id, terakhir update pada tanggal 20 Juni 2021, pukul 14.50 WIB, total terkonfirmasi mencapai 3576 kasus. Dengan rincian, 94 orang dirawat, 2960 orang sembuh, 328 orang menjalani isolasi mandiri, dan 194 orang meninggal dunia. Pada tanggal 6 Juni 2021, total terkonfirmasi ada 3115 kasus. Artinya, dalam dua pekan terakhir ini ada lonjakan kasus yang cukup tinggi. Yakni ada penambahan 461 kasus baru. Angka kematian pun terus bertambah.
Mirisnya, lonjakan kasus dan tingkat kematian yang ada belum sepenuhnya mampu menggerakkan hati masyatakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Lihat saja di pasar. Masih banyak pedagang dan pembeli yang tak memakai masker. Simpul-simpul keramaian seperti kafe pun kerap dijumpai kerumunan dan sebagian besar di antara mereka tidak bermasker.
Meskipun menghadapi apriori masyarakat yang sebagian tak percaya Covid-19 itu nyata, Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kabupaten Pekalongan tak pantang menyerah. Satgas selalu bergerak untuk mengedukasi masyarakat agar mematuhi prokes dengan gerakan 5M-nya (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir atau menggunakan handsanitizer, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas).
Berbagai upaya pun terus dilakukan untuk menekan laju Covid-19. Program vaksinasi digencarkan, disinfeksi massal di pusat-pusat keramaian, hingga tracing kasus baru terus dilakukan.
"Edukasi ke masyarakat selalu kita lakukan. Edukasi kami diterima atau tidak, kami akan terus bergerak," ujar Kepala Puskesmas Kedungwuni 1 dr Noor Endah, kemarin.
Ia mengakui mengedukasi masyarakat tak semudah membalikan telapak tangan. Yang sudah merasakan Covid-19 dan masuk rumah sakit pun, keluh dia, tak merubah perilakunya dalam mematuhi prokes.
"Bahkan ada yang anggota keluarga meninggal karena positif pun, keluarganya masih saja berkeliaran kemana-mana tanpa masker juga. Kami mentok di edukasi. Kami tidak punya hak di punishment," kata dia.
Proses tracing juga tidak lah mudah. Meski selalu melibatkan pamong desa, kader, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, masih saja ada warga yang enggan untuk di-swab untuk proses tracing kasus. Ia mencontohkan, saat tracing kasus seorang warga positif dan ikut piknik ke luar daerah, tidak semua orang di rombongan itu mau di-swab. Padahal dalam rombongan itu ada 25 orang.
"Yang bersedia swab hanya enam orang. Satu di antaranya hasilnya positif," tutur dia.
"Kami tracing kontak erat, sekian yang mau di-swab, sekian yang tidak, kami laporkan ke Satgas," ungkap dia.
Diakuinya, salah satu penyebab Covid tidak turun adalah persoalan di kepercayaan masyarakat. Masyarakat masih banyak yang tak percaya Covid itu ada. Ada pula masyarakat yang memiliki keyakinan hidup mati ada di tangan tuhan.
"Hidup mati memang karena Allah, tapi harus ada usaha kan," tandasnya.
Ia meminta masyarakat untuk sama-sama buka mata. Kasus itu bukan hanya di sekitar kita. Di RS Karyadi Semarang, kata dia, jangan saja yang hidup. Yang mati saja antre untuk masuk ke kamar mayat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
