iklan banner Honda atas

Perajin Tempe Pilih Tetap Produksi

Perajin Tempe Pilih Tetap Produksi

**Tak Terpengaruh Aksi Mogok

KAJEN - Meski ada aksi mogok sebagai bentuk kekecewaan atas harga kedelai melejit, namun para perajin tempe di Kabupaten Pekalongan memilih tetap produksi. Itu dilakukan karena bila ikut mogok malah tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari hari.

Hal itu diakui salah seorang perajin tempe Dukuh Tambor Desa Nyamok Kecamatan Kajen, Slamet Mujiono (61). Ia mengaku meski terimpit kondisi sulit perajin memilih tetap memproduksi tempe.

"Ya gimana? Kalau ikut mogok terus mau makan apa?. Sebab saya usaha modal sendiri sehingga harus bisa mecukupi kehidupan keluarga," ungkapnya.

Diakui, dengan kenaikan harga kedelai tidak menaikan harga tempe, melainkan harus mengurangi ukuran. Sebab apabila tidak maka pembeli pasti berkurang.

"Sekarang harga kedelai Rp 11 ribu per kilogram. Jadi yang ukuran semula 22 cm X 30 Cm sekarang memakai ukuran 21 cm X 30 Cm dengan harga masih tetap Rp 10 ribu" katanya.

Sedangkan dengan ukuran 21x30 cm tersebut ketika di pedagang dijual Rp 12 ribu dengan dipotong mejadi 6 dihargai Rp 2 ribu perpotong. Meski ukuran tempe sedikit mengecil namun tidak menurunkan omset penjualan dan saat ini tetap habis 45 kilogram.

"Kami berharap semoga harga kedelai bisa kembali stabil menjadi Rp 10 ribu. Yang penting pemerintah harus memperhatikan pedagang tempe, " harapnya.

Sementara itu, lonjakan kedelai yang sebelumnya harga per kilogram Rp 9500 sampai Rp 10 ribu, namun saat ini menjadi Rp 11.000 sampai Rp 11.250 per kilogram, naik Rp 1000 sampai Rp 1.250. (Yon)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: