Petani Cabai Gagal Panen
**Karena Musim Hujan, Picu Tingginya Harga Cabai
PETUNGKRIYONO - Akibat faktor cuaca, banyak petani cabai di Kabupaten Pekalongan gagal panen. Ada pula petani yang menunda untuk menanam cabai. Akibatnya, produktivitas cabai turun, sehingga harga cabai meroket.
Petani cabai dari Dukuh Garung, Mudal, Petungkriyono, Munir (30), Senin (18/1/2021), mengatakan, harga cabai keriting merah di tingkat petani sekitar Rp 30 ribu/kg - Rp 31 ribu/kg. Di pasaran, lanjut dia, harga cabai merah keriting berkisar antara Rp 40 ribu/kg - Rp 50 ribu/kg. Menurutnya, harga cabai tinggi karena produktivitas cabai saat ini rendah. Sebab, kata dia, banyak petani yang mengalami gagal panen karena faktor cuaca.
"Jika ada empat hingga lima ribu tanaman, tanaman yang bisa dipanen sekitar seribu tanaman. Makanya harganya sampai segitu," kata dia.
Jika standar normal, kata dia, per pohon bisa keluar 3 ons cabai. Di musim penghujan paling 1 sampai 1,5 ons perpohonnya. Kondisi normal saat musim kemarau perpohon maksimal 0,5 kg.
"Normalnya perpohon maksimal 12 kali petik, minim paling 8 hingga 9 kali," terang dia.
Dikatakan, jika harga cabai di tingkat petani di sekitar Rp 30 ribu maka masih bisa menutup biaya produksinya. Namun jika harganya Rp 25 ribu ke bawah, maka petani merugi.
"Jika musim hujan, jika harga cabai di bawah Rp 25 ribu maka ndak nutup (rugi). Di musim kemarau itu beda lagi. Jika musim kemarau di bawah Rp 15 ribu rugi. Di atas Rp 15 ribu masih untung," kata dia.
Diterangkan, pada musim hujan, tanaman cabai banyak yang mengalami busuk batang, busuk buah, dan busuk pohon. Penyakit busuk pohon ini mengancam sejak bibit tanaman cabai ditanam hingga saat panen.
"Dari dini terancam serangan itu. Jika perawatannya ndak bisa maksimal, modalnya ndak banyak ya gagal kalau musim hujan seperti ini," ujar dia yang saat ini memiliki 11 ribu tanaman cabai dan tujuh hari lagi mulai panen.
Oleh karena itu, untuk cabai rawit masih usia muda pun sudah dipanen karena takut terserang busuk buah.
"Cabai rawit masih muda dipanen untuk menghindari busuk buah. Cabai setan risikonya lebih tinggi. Kalau di sini mayoritasnya cabai kriting merah," katanya.
Selain menjadi petani cabai, dirinya juga menjadi salah satu pengepul cabai di wilayah Petungkriyono. Ia mengaku menggeluti budidaya cabai sejak tahun 2016. Sebelumnya ia pernah mengajar di SMAN 1 Petungkriyono.
"Di Petung saya yang ngepul. Dari pengepul dikirim per daerah. Lewat banyak tangan," ujar dia.
Menurutnya, cabai merah keriting dari Petungkriyono rata-rata dipasarkan ke luar daerah, terutama ke Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara.
"Untuk masuk ke pasar induk Jakarta, pasar Ajibarang, dan pasar besar lainnya belum mampu karena stoknya kurang. Di Petung saya ngambil tujuh hari sekali paling dapat enam sampai delapan kuintal. Itu sudah maksimal. Kalau mau masuk ke pasar induk pakainya tonase," terang dia.
Jika musim kemarau, kata dia, per hari tiga sampai lima kuintal kemungkinan masih mampu. Namun, di musim hujan produktivitas cabai turun.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
