PMK Kian Tak Terbendung
*Ada 262 Kasus
*Penyebaran Kian Merata
KAJEN - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak ruminansia di Kabupaten Pekalongan kian tak terbendung. Sedikitnya sudah ada temuan 262 ekor sapi yang terindikasi terserang PMK.
Penyebarannya pun kian merata di kantong-kantong ternak di masing-masing kecamatan di Kota Santri.
Dengan keterbatasan petugas dan logistik, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan menargetkan agar tidak ada kasus kematian ternak akibat PMK. Sehingga kerugian peternak bisa ditekan.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan, drh Arif Rahman, kemarin siang, mengatakan, hingga kemarin sudah ada 262 ekor sapi yang terindikasi terserang PMK. Di semua kantong-kantong ternak sudah ada temuan kasus itu. Seperti di Talun, Paninggaran, Lebakbarang, Petungkriyono, Wiradesa, Tirto, Wonopringgo, dan Kedungwuni. "Kandangserang malah belum ada laporan," kata dia.
PMK saat ini menyerang sapi. Namun, kata dia, di Kecamatan Karanganyar, ada gejala di kambing. Namun kali ini pihaknya tidak mengambil sampel untuk diuji lab.
"Jika mau dikonfirmasi di laboratorium saat ini agak susah dan biayanya juga mahal. Jika ada gejala klinisnya ya kita nyatakan itu terkena. Hanya di awal-awal saja kita pertama kali sebelum muncul ya kita tes lab. Jika hasilnya positif, selanjutnya jika ada gejala-gejala mirip kita anggap sama," terang dia.
Dikatakan, PMK itu penyakit hewan yang sangat menular. Penyebarannya sangat cepat. Bisa lewat hewan, manusia sebagai carrier, angkutan hewan, hingga indikasi penyebaran melalui udara. Makanya, tindakan yang dilakukan harus cepat. Jika tidak ditangani dengan maksimal, kerugian peternak bisa sangat besar.
"Kerugian peternak bisa sangat besar. Di Pekalongan saja kerugian peternak bisa lebih dari Rp 10 miliar. Coba saja dihitung. Satu bakul saja kemarin ada yang disuntik sampai 60 ekor. Dia harus mengeluarkan uang sekitar 6 juta untuk suntiknya saja. Belum dari kerugian berat badan, kerugian tidak bisa mengeluarkan ternaknya. Satu bakul saja kerugiannya cukup besar. Bisa ratusan juta," ungkapnya.
Upaya yang dilakukan saat ini adalah memberikan edukasi dan informasi ke peternak dan bakul.
"Apa yang bisa dilakukan peternak. Misalnya perawatan lukanya, bagaimana caranya agar sapinya mau makan. Sapinya mau makan saja sudah bagus. Karena nanti pelan-pelan lukanya nanti kita sembuhkan. Kita dengan keterbatasan petugas dan keterbatasan logistik, kita akhirnya pakai obat sendiri. Stok obat-obatan di distributor juga semakin langka. Jika tidak ada intervensi pemerintah untuk pengadaan obat dan lain sebagainnya itu akan kesulitan," ungkapnya.
"Kita ini istilahnya pemadam kebakaran di spot-spot kecil. Di Pekalongan, total ternak sapi sekitar 23 ribu. Target kita saat ini jangan sampai ada kematian ternak karena PMK.
Peternak jangan sampai panik. Ternak yang sudah kena langsung diobati. Yang cukup parah langsung dipotong. Yang penting jangan sampai mati, kasihan peternaknya," imbuh dia. (had)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
