banner honda Juli 2026

Lima Tahun Jalan di Simego Rusak Parah

Lima Tahun Jalan di Simego Rusak Parah

*Warga Mengeluh, Akses Perekonomian Sulit

PETUNGKRIYONO - Warga Desa Simego, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan mengeluhkan kondisi jalan menuju ke desanya yang rusak parah. Sudah lima tahun akses jalan di desa terpencil ini rusak parah dan tak kunjung diperbaiki. Dampaknya akses pertanian, pendididikan, kesehatan, dan akses perekonomian warga terganggu. Sekretaris Desa Simego Didin Suhandika, Kamis (28/1/2021), mengatakan, jalan sepanjang 13 km menuju ke Desa Simego rusak parah. Yakni jalan sepanjang ruas Gumelem- Igir Gede, Igir Gede-Simego, dan Simego-Kubang.

"Jalan rusak sejak tahun 2016. Tahun 2015 jalan selesai perbaikan. Setahun kemudian kondisi jalan parah lagi, hingga sekarang belum diperbaiki," keluh dia.

Dikatakan, warga Desa Simego sebagian besar memiliki pekerjaan sebagai petani. Kerusakan jalan memengaruhi harga jual produk pertaniannya. Menururnya, harga jual produk pertanian di Desa Simego lebih murah dibandingkan desa-desa lain di sekitarnya.

"Produk kentang misalnya. Jika dibandingkan dengan Desa Gumelem. Varietas kentang sama-sama besarnya, sama kualitasnya. Harga jual di Simego selisih Rp 1000 dengan yang ada di Gumelem. Karena tengkulak-tengkulak memerhitungkan kondisi jalan juga. Biaya angkutnya kesusahan," terang dia.

Untuk akses kesehatan, kata dia, sangat terpengaruh. Misalkan jika ada ibu mau melahirkan, maka jauh hari sebelum masuk Hari Perkiraan Lahir (HPL) si ibu hamil itu harus sudah dibawa ke fasilitas kesehatan. Jika terlambat dibawa ke faskes, ibu hamil bisa melahirkan di jalan karena medannya sulit.

"HPL-nya misalkan jatuh hari Selasa, kita sudah siap-siap dari hari Minggu-nya kadang sudah dibawa ke faskes," kata dia.

Menurutnya, faskes untuk warga Desa Simego tidak di Puskesmas Petungkriyono yang berada di pusat ibukota kecamatan. Namun faskesnya ke Puskesmas Paninggaran atau Puskesmas Kalibening (Banjarnegara). Pasalnya, akses jalan ke ibukota kecamatan lebih sulit dijangkau.

"Ke kecamatan jalannya lebih sulit. Jalan kan sama-sama rusaknya. Cuma kalau ke barat (Kalibening dan Paninggaran) jalannya turun. Kalau ke kecamatan sudah rusak, jalannya naik, lebih sulit dan berbahaya," ujar dia.

Akibat jalan rusak juga ikut memengaruhi harga kebutuhan pokok di desa itu, sebab biaya angkutan mahal. Selisihnya, kata dia, banyak. Ia menyontohkan, untuk harga Lpg 3 kg di Simego Rp 27 ribu. Di daerah bawah, harga LPG melon kisaran Rp 20 ribu di tingkat pengecer.
"Harga kebutuhan pokok juga lebih mahal," katanya.

Kondisi jalan rusak ikut memengaruhi sektor pendidikan. Salah satunya sulitnya akses guru untuk mengajar di desa paling ujung selatan ini.
"Rata-rata guru dari bawah. Banyak guru yang laju. Sebelum pandemi, sekolah harusnya mulai jam 7 kadang jam 8.30 baru mulai. Guru-gurunya juga banyak yang sering jatuh saat naik ke sini. Guru wanita kadang sampai nangis-nangis. Kasihan juga kita. Musim hujan akses lebih susah karena lebih licin," ungkap dia.

Diterangkan, jumlah penduduk Simego di akhir tahun 2020 ada 1955 jiwa. Desa ini terdiri atas lima pedukuhan. Mayoritas penduduknya adalah petani sayur mayur.

"Simego ini posisinya paling selatan Kecamatan Petungkritono," katanya.

Ia berharap, pemerintah bisa segera melakukan perbaikan infrastruktur jalan di Simego. "Warga Simego itu bola bali ndak ingin diberi apa-apa. Hanya minta akses jalan yang baik," tandas dia. Ditambahkan, pada tahun 2020 hanya sekitar 800 meter jalan yang sudah ditangani. "Alasan pemda karena ada pandemi, ada refokusing anggaran. Yang tadinya sampai ke Dukuh Simego ternyata tidak sampai. Saya denger-denger tahun ini yang tiga ruas jalan itu katanya akan tuntas tapi hanya sampai aspal kemarin kurang lebih 1000-nan itu sampai Igir Gede saja. Belum menyeluruh. Masih sekitar 7 km kalau tahun ini jadi," tandas dia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: