iklan banner Honda atas

Pandemi, Harga Kopi Turun

Pandemi, Harga Kopi Turun

PETUNGKRIYONO - Memasuki akhir musim panen, petani kopi di Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, berharap harga kopi bisa tinggi.

Pasalnya, kualitas kopi tahun 2021 ini dinilai lebih bagus dibandingkan dari tahun lalu. Namun, ditengah pandemi Covid-19 harga kopi malah turun.

"Alhamdulillah panen kopi tahun ini bagus, namun berhubung pandemi Covid-19 dan musimnya berbarengan panen padi jadi biji kopi tidak terurus dan pada jatuh buahnya. Metiknya sampai telat," kata Soenarnah (47), petani kopi Desa Kayupuring, baru-baru ini.

Di masa pandemi Covid-19, harga biji kopi justru turun. Menurutnya, biji kopi yang metik merah dan kualitas bagus harganya Rp 30 ribu perkilogram. Biji kopi biasa dan ada campuran biji kopi yang hijau harganya Rp 20 ribu perkilogramnya.

"Biasanya menjual dalam keadaan kering. Namun ada juga petani yang pingin cepat dapat duit sehingga menjualnya dengan keadaan basah. Kalau basah per kilogram dijual dengan harga Rp 4 ribu," terang dia.

Soenarnah mengungkapkan, panen kopi ada tiga tahapan. Yakni, meliki (memilih), panen raya, dan penghabisan.
"Bulan ini adalah akhir masa panen, karena awal panen bulan Juni," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kayupuring Cahyono, mengatakan, kopi tahun ini buahnya bagus. Namun, karena banyaknya warga yang melakukan aktivitas lain jadi biji kopi tidak dipanen secara maksimal. Selain itu, harga jualnya sendiri sedikit mengalami penurunan.

"Ditambah lagi ongkos untuk membayar tenaga yang memetik biji kopi tidak sesuai," katanya.

Cahyono mengungkapkan, luas tanaman kopi di Desa Kayupuring ada 15 hektar. Biji kopi yang dijual itu kopi biji merah. Tapi ada juga petani menjual yang masih hijau.

"Rata-rata lahan kopi di Desa Kayupuring berada di tengah hutan dan juga ada yang tanah milik. Kopinya sendiri jenisnya robusta," ungkapnya.

Cahyono menjelaskan, pemerintah desa juga memberikan pendampingan kepada petani kopi.

"Untuk pemasaran produk kopi lokal dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)," jelasnya.

Ia berharap, pemerintah daerah memberikan pelatihan kepada petani seperti penyetekan agar hasil kopi yang dihasilkan nanti berkualitas. Apabila sudah berhasil, perekonomian masyarakat desa juga bisa meningkat. (had)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: