iklan banner Honda atas

18 Desa Masih Terendam Banjir

18 Desa Masih Terendam Banjir

**Ketinggian Banjir 10 Cm Sampai 75 Cm

WONOKERTO - Banjir masih merendam 18 desa di Kabupaten Pekalongan. Ketinggian banjir antara 10 cm hingga 75 cm. Jumlah rumah terdampak 9.822 rumah, dengan 11.801 kepala keluarga atau 39.405 jiwa. Hingga Senin (15/2/2021) kemarin, ada 1.571 warga yang mengungsi di 19 lokasi pengungsian. BPBD sendiri mencatat ada 18 dapur umum yang didirikan untuk menyuplai kebutuhan korban banjir.

Berdasarkan pantauan di Kecamatan Wonokerto, wilayah bagian utara di kecamatan ini sebagian besar masih sulit dilalui kendaraan. Di sejumlah kampung, air masih tinggi. Di antaranya di Desa Wonokerto Kulon, Wonokerto Wetan, Rowoyoso, Semut, Tratebang, Api api, Jambean, Bebel, Werdi, Pecakaran, dan Pesanggrahan.

Jalan-jalan utama masih banyak terendam banjir, sehingga sulit diterobos kendaraan. Kondisi rumah warga pun memprihatinkan. Rumah-rumah yang belum ditinggikan, hampir separonya tampak terendam air.

Akibat terlalu lama hidup di genangan banjir, banyak warga mengeluhkan gatal-gatal di kulit, terutama di kaki. "Di sela-sela jari kaki gatal semua. Banyak yang seperti ini. Kami juga butuh obat gatal," keluh Ahmad (45), warga Desa Wonokerto Kulon.

Korban banjir juga terlihat mendirikan dapur umum di beberapa titik di lokasi yang agak tinggi di pinggiran jalan utama. Namun dapur umum swadaya ini pasokan logistiknya belum merata. Ada yang sudah tercukupi dengan baik. Ada pula yang minim logistik bahan pangan dan bumbu dapurnya.

"Banjir saat ini justru kian besar dan logistik kian menipis," tutur Riya Fitriya, koordinator dapur umum di Desa Rowoyoso.

Di Desa Rowoyoso, terang dia, pedukuhan paling parah terendam banjir di Dukuh Buntek dari RT 17 hingga RT 27. Ada 385 rumah atau 525 kepala keluarga di dukuh ini terdampak banjir.

"Banjir juga sebagian menggenangi Dukuh Rowoyoso RT 2 dan RT 9.

Ketinggian air sudah 1 meter. Banjir sudah tujuh hari lebih tetapi sampai sekarang belum juga surut meskipun tidak ada hujan. Banjir dikarenakan kiriman air dari selatan," kata Fitri.

Salah satu dapur umum yang kebutuhan logistiknya tercukupi di antaranya di Dukuh Randuwatan, Desa Sijambe. "Alhamdulillah dari donatur sudah cukup (logistik dapur umum, red). Obat-obatan juga tercukupi," kata Rofi (32), saat ditemui di dapur umum Dukuh Randuwatan.

Disebutkan, di wilayahnya sepekan lalu ketinggian air sepusar orang dewasa. Dua hari lalu, kata dia, air mulai surut sehingga ketinggiannya sekarang satu pinggang orang dewasa. Menurutnya, di pedukuhan itu ada 280 rumah terdampak banjir.

"Meskipun banjir, warga di sini masih bertahan di rumah. Yang sepuh ngungsi di keluarga terdekat," katanya.

Dapur umum itu, lanjut dia, memenuhi kebutuhan makan warga dua kali dalam sehari, yakni pagi dan sore hari. "Ada 280 rumah. Per-rumah dijatah tiga hingga empat bungkus," imbuh dia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: