iklan banner Honda atas

Tikus-Pipit Resahkan Petani

Tikus-Pipit Resahkan Petani

Petani padi di Kabupaten Pekalongan resah dengan mulai merebaknya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Mulai dari serangan tikus, penggerek batang, wereng coklat, walang sangit, keong mas, hingga burung pipit.

Suroso (60), warga Dukuh Mangli, Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, kemarin, mengeluh serangan hama manuk emprit (burung pipit). Tanaman padi miliknya saat ini sudah mulai berbulir (mratak). Namun, gerombolan burung pipit kerap menyerang tanaman padi.

"Saya dibikin capek akhirnya. Sehari tiga kali jagain sawah. Pagi, siang, dan sore. Manuk emprite ya tambah wani. Kalau tidak didekati, ndak mau pergi," keluh dia.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan, Subandi, dikonfirmasi, kemarin, menerangkan, berdasarkan data yang masuk di DKPP, ada 14,5 hektare sawah diserang hama tikus. Paling luas di Kecamatan Lebakbarang ada 10 hektare. Tingkat serangan tikus masih kategori ringan.

"Total di Kabupaten Pekalongan ada 14,5 hektare. Itu kategori ringan. Yang berat hanya 1 hektare di Lebakbarang," kata dia.

Selain tikus, lanjut dia, ada serangan walang sangit seluas 14 hektare. Selain itu, yang saat ini mulai marak adanya serangan burung pipit. Di antaranya ada di Petungkriyono seluas 7 hektare dan di Doro seluas 14 hektare. Sehingga total tanaman padi yang diserang burung pipit ada 21 hektare.

Untuk serangan penggerek batang seluas 99 hektare (91 ha ringan, 7 ha sedang, dan 1 ha berat), wereng coklat ada 7 hektare dengan kategori serangan masih ringan, dan 16 hektare sawah diserang hama walang sangit. Keong mas menyerang 8 hektare sawah dan bakteri hawar daun menyerang di 25 hektare sawah.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan, Muh Isrin, mengatakan, untuk saat ini masih ada serangan hama penggerek batang, wereng coklat, tikus, burung pipit, dan tekek atau busuk leher yang disebabkan oleh jamur. Serangan OPT saat ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

"Tingkat serangan penggerek batang ringan hingga sedang, tikus ada yang sedang. Yang lainnya masih kategori ringan," terang dia.

Faktor pemicu munculnya serangan OPT itu di antaranya tanam tidak serentak, varietas tidak tahan hama dan penyakit, penggunaan N atau pupuk urea yang terlalu tinggi, dan faktor lingkungan, seperti faktor cuaca, suhu dan kelembaban, dan Ph tanah.

"Ph tanah jika masih asam, pupuk juga tidak terserap maksimal. Petani kadang-kadang penggunaan N-nya terlalu tinggi, sehingga menambah kerentanan terhadap hama dan penyakit. Tiga tahun ini juga masuk kemarau basah yang rentan muncul OPT," ungkap dia.

Agar OPT bisa lebih terkendali, ia menyarankan agar petani melakukan tanam serempak. "Paling ndak satu blok bareng-bareng. Jika di situ ada hama kan jadi merata. Tidak ngumpul," katanya.

Petani diimbau untuk menggunakan varietas yang tahan hama dan penyakit tanaman. Selain itu, gilir varietas juga diperlukan. "Petani sekarang senangnya kan varietas Inpari 32. Memang masing-masing varietas punya kelebihan, punya kekurangan. Yang baik digilir. Misal 32, 42, dan yang lainnya yang berbeda. Itu akan menekan penyakit," tandas dia.

Menurutnya, penggunaan pupuk harus berimbang dan penggunaan pestisida yang bijaksana. "Jika di situ belum perlu penggunaaan pestisida yang kimiawi, ya gunakan pestisida hayati karena di alam juga ada musuh alaminya," katanya. (had)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: