Abrasi Simonet Kian Parah, Bibir Pantai Sampai Teras Rumah Warga
WONOKERTO - Abrasi di Dukuh Simonet, Desa Semut, Kecamatan Wonokerto kian parah. Daratan kian menyusut. Bibir laut sudah berada di teras rumah warga. Padahal, jarak rumah dengan laut sebelumnya mencapai ratusan meter.
"Semakin ke sini semakin parah mas karena saat ini gelombang besar disertai angin," ujar Kepala Desa Semut, Sugiono, kemarin.
Dikatakan, daratan sudah banyak yang hilang akibat abrasi. Jarak laut dengan pemukiman kian dekat. "Laut sekarang sudah di teras rumah. Padahal jarak laut dengan rumah sebelumnya ada 100-an meter," kata dia.
Bahkan, lanjut dia, sudah ada delapan rumah yang dikosongkan oleh penghuninya. Sebab, pasir laut sudah masuk ke dalam rumah.
"Rumah ada delapan unit yang sudah ditinggalkan penghuninya karena kemasukan pasir dari laut," terang dia.
Para penghuni rumah tersebut ada yang mengontrak rumah di Desa Semut. Ada pula yang sementara numpang di rumah saudaranya.
"Yang lain masih waspada jika ada rob besar. Saya sudah sampaikan pada warga segera ngungsi supaya selamat tapi sampai sekarang mereka belum mau," ujar dia.
Sebelumnya diberitakan, ratusan warga di Dukuh Simonet kian resah dengan rusaknya bangunan breakwater di sepanjang pesisir pantai di wilayah itu. Dengan kerusakan bangunan pemecah gelombang itu, banjir rob saat ombak pasang hampir menyapu seluruh pemukiman di Dukuh Simonet.
Kecemasan warga di pedukuhan paling utara di pesisir Kota Santri ini kian menjadi seiring dengan selesainya tanggul penanggulangan banjir rob. Maklum, pedukuhan ini berada di luar tanggul atau di sisi utara tanggul, sehingga kekhawatiran akan dampak ombak pasang laut kian menjadi.
Ketua RT 14 Dukuh Simonet, Sunaryo, menuturkan, di Dukuh Simonet terdapat 56 rumah, dengan 250-an kepala keluarga. Untuk mengatasi abrasi dan mencegah banjir pasang air laut, pemerintah membangun breakwater dengan konstruksi bebatuan. Ia mengaku lupa kapan breakwater itu dibangun, namun seingatnya pada tahun 2014.
"Breakwater itu dulu tingginya sekitar 2 meter, namun sekarang ambles hingga tingginya kurang dari 1 meter. Konstruksi batu untuk pemecah gelombang ini juga banyak yang bolong sehingga tidak berfungsi optimal saat air laut pasang," terang dia.
Oleh karena itu, banjir rob akibat pasang laut pun terus terjadi di pedukuhan ini. Bahkan, banjir sudah memasuki hampir semua rumah di dukuh tersebut, dengan ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 20 cm hingga 50 cm.
Selama musim banjir rob, lanjut dia, akses masyarakat di pedukuhan ini nyaris terisolir. Sehingga warga pun kian kesulitan mendapatkan kebutuhan sehari-hari selama musim banjir rob.
"Kami saat ini kian resah karena kondisi breakwater rusak. Di sisi lain, tanggul penahan banjir rob sudah selesai, sehingga dikhawatirkan rob hanya akan berhenti di sini saja," katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
