Petani Geruduk Bendung Juwero, Desak Pengeringan Air Ditunda
*Khawatir Picu Gagal Panen
KENDAL - Puluhan petani Desa Rejosari, Kecamatan Ngampel, Minggu (1/8) siang kemarin menggeruduk kawasan Bendungan Juwero di Desa Triharjo, Kecamatan Gemuh. Mereka memprotes kebijakan pengeringan Bendung Juwero yang dilakukan pada awal september, menyusul kegiatan perbaikan pada saluran induk dan sekunder. Para petani mendesak pengeringan ditunda, karena bisa mematikan pasokan air ke areal tanaman padi mereka yang bisa mengakibatkan gagal panen (puso).

Pantauan Radar, rombongan petani dari Desa Rejosari itu mendatangi Bendungan Juwero dengan menggunakan mobil bak terbuka. Kedatangannya untuk melayangkan aksi protes atas pengeringan bendungan tersebut. Kepada petugas jaga, mereka merminta agar tidak menutup pintu air bendungan yang mengarah ke saluran irigasi, sehingga air akan tetap mengalir dan mengairi tanaman padi yang mulai berisi. Pasalnya jika ditutup, petani khawatir tanaman akan mati dan merugi.
Salah satu petani, Sanusi, mengaku tidak setuju jika pengeringan Bendungan Juwero dilakukan pada saat ini. Hal itu karena tanaman padi milik petani sudah mulai berisi dan membutuhkan air yang cukup. "Jika saluran dikeringkan dan pintu air dibendungan tidak dibuka, maka tanaman padi petani akan kering sehingga akan terjadi gagal panen," katanya.
Kepala Desa Rejosari, Komarudin Abbas mengatakan, rencana pengeringan saluran irigasi sudah pernah disosialisasikan. Namun petani meminta agar rencana tersebut bisa ditunda, minimal menunggu tanaman padi mulai menguning. "Petani hanya meminta pintu air di Bendungan Juwero tidak ditutup hingga tanaman padi dipanen," tukasnya.
Sempat terjadi perdebatan dengan mantri pengairan dan penjaga bendungan yang menutup pintu saluran irigasi Bodri kanan dan kiri tersebut. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kendal, Sugiono mengatakan, pengeringan saluran sudah menjadi agenda tahunan dan dilaksanakan di awal September. Ia menyebutkan, pengeringan itu dilakukan karena akan dilakukan perbaikan saluran irigasi bodri kanan dan kiri yang menelan anggaran Rp 60 miliar.
"Untuk membantu petani bisa mendapatkan air, pemerintah akan meminjamkan mesin pompa untuk mengairi irigasi yang terdampak pengeringan dengan mengambil air dari sungai Blorong," ungkapnya.
Sugiono menambahkan, pengeringan sendiri dilakukan untuk memotong siklus hama yang terbawa sepanjang saluran. Selain itu, menertibkan masa tanam agar petani bisa mendapatkan air sesuai dengan masa tanam. Sosialisasi pengeringan Bendungan Juwero sudah dilakukan jauh-jauh hari.
"Namun banyak petani yang tidak memenuhi masa tanam sesuai dengan jadwal," pungkasnya. (lid)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
