SERASI JAKRA - Setiap Rabu Komunikasi Jawa Krama
Niken Ari Andayani, S.Pd.SD.--
Bahasa adalah jembatan budaya. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana menjaga identitas, adab, dan kearifan lokal. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, bahasa Jawa krama mulai jarang terdengar di ruang publik. Anak-anak lebih akrab dengan bahasa gaul, bahkan campuran istilah asing yang mereka temukan di media sosial. Kondisi ini menjadi keprihatinan bersama, khususnya bagi para pendidik di Jawa Tengah.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, SDN 1 Pageruyung menggagas sebuah program sederhana namun bermakna: SERASI JAKRA – Setiap Rabu Komunikasi Jawa Krama. Program ini mengajak seluruh warga sekolah untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa krama setiap hari Rabu. Mulai dari guru, siswa, hingga tenaga kependidikan diajak membiasakan diri bertutur dengan unggah-ungguh basa, setidaknya satu hari dalam sepekan.
Mengapa Rabu? Pemilihan hari Rabu didasarkan pada pertimbangan praktis dan simbolis. Secara praktis, Rabu berada di tengah pekan sehingga menjadi “penyegar” di sela rutinitas belajar. Secara simbolis, Rabu mencerminkan keseimbangan: tidak terlalu awal, tidak pula di penghujung. Harapannya, keseimbangan itu menular ke dalam komunikasi, yakni seimbang antara menjaga budaya sekaligus menyesuaikan diri dengan zaman.
Implementasi SERASI JAKRA tidak rumit. Guru membuka pelajaran dengan salam dan sapaan menggunaan bahasa jawa krama, siswa menjawab dengan bahasa krama, dan interaksi sehari-hari di kelas diarahkan untuk menggunakan unggah-ungguh sesuai konteks. Bahkan di luar kelas, seperti saat jajan di kantin atau meminjam buku di perpustakaan, siswa dilatih untuk menggunakan kalimat sederhana dalam bahasa krama.
Tentu, pada awalnya ada rasa canggung. Banyak siswa terbata-bata, bahkan salah kaprah menggunakan kata ganti orang. Namun, justru dari kesalahan itulah lahir pembelajaran. Guru tidak serta-merta menegur, melainkan memberi contoh dan arahan dengan sabar. Lama-kelamaan, siswa mulai terbiasa, bahkan menjadikan komunikasi krama sebagai “tantangan seru” setiap Rabu.
Dampaknya perlahan terlihat. Siswa tidak hanya mampu berbicara dalam bahasa krama, tetapi juga memahami nilai-nilai adab di balik bahasa krama. Mereka belajar kapan harus menggunakan krama alus, kapan cukup dengan krama madya, dan bagaimana menghargai lawan bicara melalui pilihan kata. Hal ini sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila: beriman, berkebinekaan global, gotong royong, dan bernalar kritis.
Lebih dari itu, SERASI JAKRA menjadi wujud nyata upaya pelestarian budaya di sekolah dasar. Jika sejak dini anak-anak terbiasa menggunakan bahasa Jawa krama, mereka akan tumbuh dengan kesadaran bahwa bahasa ibu bukan sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan identitas yang patut dibanggakan.
Program ini sederhana, tidak membutuhkan anggaran besar, hanya komitmen bersama. Namun, dampaknya besar, antara lain: tumbuhnya generasi muda yang berbudaya, santun dalam bertutur, sekaligus percaya diri menghadapi era global. SERASI JAKRA adalah langkah kecil, tetapi kecil yang konsisten bisa menjadi cahaya besar. Seperti pepatah Jawa, “Ajining diri saka lathi, ajining bangsa saka budaya” — harga diri seseorang terlihat dari tutur katanya, harga diri bangsa tercermin dari budayanya.
Artikel ini disusun oleh: Niken Ari Andayani, S.Pd.SD.
Guru SDN 1 Pageruyung, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
