Sesepuh dan Kader Golkar Dukung PASTI
KARANGANYAR - Sesepuh, senior, kader, dan anggota Partai Golkar Kabupaten Pekalongan eksodus memberikan dukungan kepada pasangan calon Asip Kholbihi - Sumarwati (PASTI) pada Pilkada 2020. Padahal, DPD II Partai Golkar Kabupaten Pekalongan pada Pilkada tahun ini mengusung pasangan Fadia Arafiq - Riswadi.
Dukungan itu disampaikan dalam deklarasi sesepuh, senior, kader, dan anggota Partai Golkar Kabupaten Pekalongan untuk mendukung dan memenangkan paslon PASTI di Aula RM Tirta Alam di Desa Karanggondang, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Rabu (23/9/2020) siang. Deklarasi 'Kuning PASTI' itu diklaim penyelenggara kegiatan dihadiri sekitar 150-an peserta yang berasal dari unsur pengurus struktural, mantan pengurus, pengurus kecamatan, dan pengurus desa Partai Golkar.
Penggagas 'Kuning PASTI', Shofyan Waluyo, didampingi H Witoni Andung Basuki kepada sejumlah wartawan menjelaskan, para sesepuh, senior, kader, dan anggota Partai Golkar memberi dukungan ke paslon PASTI (Asip-Sumarwati) dengan beberapa alasan. Pertama, kata dia, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Pekalongan Fadia mencalonkan diri sebagai bupati tidak pernah berkonsolidasi dengan kader Golkar di Kabupaten Pekalongan, sehingga kader di bawah merasa ditinggalkan. Alasan kedua, lanjut dia, dalam lima tahun terakhir, Partai Golkar Kabupaten Pekalongan dinilainya kian terpuruk.
"Dukungan diberikan ke PASTI pertimbangannya juga jauh. Pertama, kita memedomani sesuatu itu harus diserahkan kepada ahlinya. Kita tidak sedang pesta hari jadi Kabupaten Pekalongan, sehingga kita bukan mencari penyanyi. Yang kita pilih pada tanggal 9 Desember adalah calon pemimpin Kabupaten Pekalongan," ujar Waluyo.
Menurutnya, track record Asip Kholbihi - Sumarwati sudah jelas dan terbukti. "Tidak sekedar survei tapi bukti sudah kita rasakan bahwa Asip mampu mengelola Kabupaten Pekalongan dengan baik, ASN-nya nyaman dalam melayani masyarakat. Sifat seorang Asip tidak arogan, tidak adigang, adigung, dan adiguno, sehingga tidak ada istilah pentagon (pejabat tanpa nggon), tidak ada istilah dendam di mana-mana, yang ada sesuaikan dengan pangkat dan golongannya, di situlah dia ditempatkan sesuai dengan kebutuhan Kabupaten Pekalongan," kata dia.
Ia menyatakan, tidak menginginkan Kabupaten Pekalongan menjadi rusak karena dikelola oleh seseorang yang diragukan kemampuannya. "Dorongan dari para sesepuh, dukungan para senior, dan kesepakatan semua pengurus baik struktural maupun anggota Golkar, biarkan gerbong Golkar ditumpangi Fadia tapi penumpangnya kita eksodus memberikan dukungan kepada PASTI di Pilkada 2020," tandas dia.
Disinggung soal konsekuensi dari dukungan itu, ia mengatakan, selama ini pihaknya mengaku tidak diurus, sehingga dirinya tidak memikirkan konsekuensi atas sikap politik yang diambil pada Pilkada 2020 ini. (had/adv)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
