Asah Soft Skill Berwirausaha, Agar Tak Balik Jadi Buruh Migran
BATANG - Sekitar empat tahun lalu, Ayek Solehah (38) kembali ke kampung halamannya di Kedungmalang, Wonotunggal. Sudah beberapa tahun lamanya, Ia mengadu nasib di Arab Saudi. Setelah habis kontrak, kini ia bertekad untuk bisa mandiri dan bisa produktif meski tak lagi jadi buruh migran.
Tak sendirian, Ayek ditemani belasan temannya kini tergabung dalam eks buruh migran yang didampingi Disnaker Batang. Lewat program Desmigratif, para eks buruh migran ini mulai menempa diri dan meningkatkan kompetensi. Sumber pangan lokal yang melimpah ruah seperti ketela dan pisang, mereka jadikan peluang usaha.
"Kalau bisa jangan sampai balik lagi ke Saudi ya mbak. Karenanya saya bergabung dengan teman-teman mengikuti ketrampilan yang diadakan Disnakertrans Batang. Semoga bisa jadi jalan usaha kami ke depan," ujarnya.
Lebih lanjut, Pendamping Kewirausahaan Disnaker Batang, Tatik Setianingsih menjelaskan, di Desa Kedungmalang Wonotunggal ini ada sekitar 15 orang eks pekerja migran yang mengikuti program pendampingan dari Disnaker. Di sini mereka dibekali aneka ketrampilan untuk berwirausaha, seperti usaha kuliner ataupun fashion.
Berkolaborasi dengan Sanggar Merti Desa Wonotunggal, Desa Kedungmalang ini diharapkan bisa menjadi Desa Migran Percontohan. Untuk usaha kuliner sendiri ada beberapa produk yang dihasilkan, seperti pisang kress, kripik, brownies, aneka kue basah dan kering, olahan ketela, dan juga wader crispy. Sedangkan untuk produk fashion ada tas piring/tas sulaman.
Yang menarik, tak hanya menjual produk saja. Mereka juga akan menggunakan kemampuan berbahasa asing mereka untuk menjual produk. Bahkan ada lima yang bakal mereka tuturkan, yakni Bahasa Indonesia, Jawa, Arab, Inggris dan Mandarin.
"Rencananya nanti di Bulan Agustus kami bakal launching produknya. Dan kami ada rencana untuk menggandeng Bumdes. Nantinya penjualan baik Online atau offline akan menggunakan bahasa-bahasa itu. Dan ke depan kami juga berharap Desa Kedungmalang bisa dirintis menjadi desa wisata bahasa. Sehingga bisa menjadi potensi ekonomi juga bagi para eks pekerja migran agar produktif. Dan bisa menurunkan minat bekerja di luar negeri para kaum muda di sekitar sini," pungkasnya. (nov)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
