Bencana Banjir Dibahas Khusus

Bencana Banjir Dibahas Khusus

DPRD Gelar Rapat dengan OPD

Bencana banjir masih menggenang beberapa wilayah di Kabupaten Pekalongan. Kondisi ini menjadi perhatian para anggota dewan untuk mendorong Pemkab melakukan upaya penanganan secara komprehensif.

Bencana Banjir Dibahas Khusus
RAPAT - DPRD Kabupaten Pekalongan menggelar rapat penanganan banjir di Kota Santri, kemarin. MUHAMMAD HADIYAN

Hal itu seperti yang terlihat dalam pembahasan rapat DPRD Kabupaten Pekalongan terkait penanganan banjir di Kota Santri. Rapat ini dihadiri Ketua DPRD, dan beberapa anggota serta unsur pimpinan, Asisten Pemerintahan dan Kesra Ali Reza, dan sejumlah Kepala OPD terkait.

Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Hindun, mengatakan, tanggal 27 Januari, hujan uang deras mengakibatkan banjir di beberapa kecamatan. Seperti di Kecamatan Siwalan, Wonokerto, Tirto, dan Buaran.
"Kita harus sikapi bersama agar masyarakat tenang dan tentram. Sehingga kondisi bisa stabil," jelas Hindun.

Menurutnya, harus ada perencanaan dari Pemda agar kondisi ini tidak terjadi tahunan. "Cukup tahun 2019 saja, pasti ada beberapa penyebab banjir kenapa besar. Dan kita cari solusinya. Mari kita identifikasi masalah yang Ada. Agar Pemkab bisa mengatasi bagaimana penanganannya," kata dia.

Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kabupaten Pekalongan, Ali Reza mengatakan, penanganan banjir sudah dilakukan di wilayah terdampak seperti Tirto, Wonokerto, dan Buaran. Berdasarkan asesmen dari BPBD Kabupaten Pekalongan, yang tergenang mencari 8.987 KK.

Tidak hanya permukiman warga, banjir juga menggenangi sarpras, balai desa, masjid, MI dan mushola. Untuk memenuhi kebutuhan pangan korban banjir, dapur umum pun sudah diselenggarakan di komplek kantor BPBD.

Sekretaris Komisi D DPRD, Moh Nur Kholis menyatakan, bencana banjir ini sdh bisa diduga, dan kebetulan ia sendiri korban bencana banjir. Masyarakat sebetulnya tidak mengharap banyak, karena tanggul sudah jadi.

"Tanggul ini semacam dewa penyelamat, pinginya ada pompa penyedot. Mustinya pompa bisa disediakan," jelasnya.

Drainase segera diatasi, contoh saluran dari kota sampai kabupaten banyak halangan sehingga air tidak langsung ke laut.

Parapet dari Tegaldowo, Karangjompo ada yang jebol. Sehingga korban banjir penderitaanya bertambah. "Derajat kesehatan menurun, meski sudah minum vitamin c. Itu semua menjadikan warga makin depresi, dapur sendiri tidak bisa untuk masak, sedangkan dapur umum tidak jelas. Sehingga kalau ada bantuan rayahan. Lama lama kayak pengemis jika terus-terusan merusak mental warga," tegas Kholis.

Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Budi Rahardjo menuturkan, bencana yang terjadi di Kabupaten Pekalongan bukan hanya banjir saja, di daerah atas juga terjadi longsor.

Karena kejadian Bulan Januari sehingga logistik yang ada di gudang merupakan sisa tahun 2018. Kecamatan terdampak bencana sudah diberikan stok, sehingga apabila terjadi bencana segera bisa diberikan meski jumlahnya kecil.

"Kabupaten Pekalongan memang sudah tergenang banjir. Namun, untuk wilayah Kecamatan Sragi dan Siwalan tidak berlangsung lama. Yang cukup lama itu terjadi di Kecamatan Wonokerto dan, Tirto karena kondisi tanah yang rendah," jelasnya. (yan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: