Waspadai PMK Gelombang 2!
*Mahasiswa KKN Undip dan DKPP Vaksinasi PMK Gratis
LEBAKBARANG - Peternak diminta mewaspadai serangan penyakit mulut dan kuku (PMK) gelombang dua. Di Kabupaten Pekalongan sendiri hingga kemarin tercatat ada 30-an ekor sapi yang terjangkit PMK.
Sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran PMK di Kabupaten Pekalongan, Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan bersama mahasiswa KKN Undip melaksanakan vaksinasi PMK gratis di Desa Kutorembet, Kecamatan Lebakbarang, Rabu (18/1/2023). DKPP Kabupaten Pekalongan menyediakan 165 dosis vaksin untuk vaksinasi di salah satu desa di wilayah pegunungan ini.
Pelaksanaan vaksinasi di wilayah pegunungan tak semudah membalikkan telapak tangan. Lokasi kandang di kebun-kebun yang jauh dari pemukinan penduduk. Akses menuju ke kandang cukup sulit. Beberapa di antaranya berupa jalan setapak yang licin. Jarak satu kandang ke kandang lainnya berjauhan. Sehingga untuk menghabiskan stok ratusan dosis vaksin hari itu membutuhkan waktu yang relatif lama.
"Hari ini kita ada giat vaksinasi PMK di Desa Kutorembet. Ini adalah salah satu langkah antisipasi untuk pencegahan penyakit PMK, karena kita dengar ada PMK gelombang dua. Ini salah satu cara kita untuk melindungi peternak dari kerugian. Kita melakukan vaksinasi dan penandaan," terang dokter hewan di DKPP Kabupaten Pekalongan, drh Mu'tasimbillah, ditemui di sela-sela kegiatan vaksinasi bersama mahasiswa KKN Undip, kemarin siang.
Untuk vaksinasi PMK di desa itu, pihaknya menyediakan 165 dosis vaksin PMK. Diharapkan, sapi yang divaksin akan lebih kebal terhadap serangan PMK yang saat ini kembali mengganas di beberapa daerah.
"Dari beberapa laporan dari daerah lain penyakit ini kembali muncul. Setelah kemarin agak mereda ini kembali muncul lagi dengan korban lebih banyak. Ini juga dirasakan di Kabupaten Pekalongan untuk sapi-sapi yang baru datang dan belum divaksin itu juga terkena. Untuk saat ini temuannya di atas 30-an ekor," terang dia.
Menurutnya, sapi yang terkena PMK kebanyakan sapi pendatang, atau sapi yang didatangkan dari luar daerah. Namun, sapi yang ada di Kabupaten Pekalongan juga sudah ada yang ikut terkena. "Sapi yang sudah divaksin relatif lebih tahan. Artinya dengan gejala yang relatif lebih ringan. Variannya masih sama. Harapannya jangan sampai terjadi mutasi. Ini menyerangnya yang belum divaksin saja," ungkap dia.
Sementara itu, dosen Undip yang ikut mendampingi kegiatan vaksinasi massal di Desa Kutorembet, Ir Sutrisno MP, mengatakan, mahasiswa KKN pembelajaran pemberdayaan masyarakat di Desa Kutorembet salah satu programnya ialah vaksinasi PMK. Pasalnya, di desa itu banyak peternak sapi. "Maka sesuai dengan program pemerintah untuk saat ini adalah vaksinasi PMK. Ini untuk menjaga kesehatan ternak. Ternak yang sehat dengan pakan yang bagus, manajemen bagus, dan vaksinasi mengikuti program pemerintah, Insya Allah nanti ternaknya akan menghasilkan yang terbaik," ujar dia.
Jika ternaknya menghasilkan yang terbaik, kata dia, maka kesejahteraan masyarakatnya juga akan semakin baik. "Peternak di sini karena lahannya yang luas, sehingga sudah sesuai untuk kandangnya diletakkan jauh dari rumah. Hanya sayang untuk kotorannya belum dimanfaatkan. Untuk pakan karena di sini banyak sekali pakan, maka belum ada yang melakukan pengawetan atau pengolahan pakannya. Baru pakan segar langsung diberikan ke ternak sapi," kata dia.
Dengan pemberian pakan segar, salah satu kelemahannya peternak setiap hari harus ngarit untuk mencari pakan ternak. "Seandainya bisa mengawetkan pada musim kemarau pun bisa tersedia pakan yang banyak dengan kualitas yang bagus," ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya mahasiswa KKN Undip ini bisa menumbuhkan semangat dari para masyarakat di Kutorembet, agar usaha ternaknya lebih berkembang. Apalagi ternak sapi merupakan salah satu sumber penghasilan masyarakat di pegunungan tersebut. "Kalau jadi buruh industri di kota sangat sulit transportasinya butuh waktu yang lama. Dengan beternak bisa menumbuhkan sumber daya yang ada di sekitar tempat tinggalnya," imbuhnya.
Sementara itu, Riyanto, salah seorang peternak, mengaku sudah lima tahun memelihara sapi. Ia menggemukkan sapi yang biasanya dijual saat Hari Raya Kurban. Beternak sapi merupakan kerjaan sambilan, di luar pekerjaan utamanya di desa.
"Alhamdulillah saat ramai PMK kemarin sapi di sini juga terdampak tapi masih bisa diatasi. Di sini kandang berjauhan jadi penyebarannya tidak cepat. Dinas Peternakan juga kalau dihubungi cepat. Jika ada sapi milik peternak ada gejala langsung menghubungi kelompok, kulo langsung menghubungi dinas dan langsung ditangani," kata dia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
