Dua Tahun Beroperasi, Aston Pekalongan Syariah Perkuat Pasar Hotel Berbasis Syariat
Temu- Temu santai General Manager Aston Pekalongan Syariah, Nadia Idris bersama media di Zamzam Restaurant hotel setempat-FOTO-Dwi Fusti Hana Pertiwi
Radarpekalongan.co.id— Aston Pekalongan Syariah menandai dua tahun perjalanannya sebagai hotel bintang empat berbasis syariah dengan menggelar temu santai bersama insan media.
Momentum ini menjadi ruang refleksi atas proses tumbuh dan adaptasi hotel di tengah dinamika Kota Pekalongan yang terus berkembang sebagai kota transit, industri, batik, sekaligus kota santri.
General Manager Aston Pekalongan Syariah, Nadia Idris, menyebut dua tahun pertama ibarat fase belajar berjalan. Dimulai dari pra-pembukaan hingga operasional penuh, hotel di bawah naungan Archipelago International ini menghadapi berbagai tantangan yang berhasil dilalui melalui konsistensi penerapan SOP dan pelayanan prima, soliditas tim serta strategi pasar yang adaptif.
“Dua tahun ini bukan perjalanan mudah. Namun Alhamdulillah, dengan kerja tim dan strategi yang tepat, kami mampu menjaga kualitas layanan hingga mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari Archipelago,” ujar Nadia.
Sebagai hotel syariah pertama dengan brand Aston, tantangan utama terletak pada penerapan nilai syariat secara menyeluruh tanpa mengurangi standar layanan hotel bintang empat.
Konsep syariah diterapkan mulai dari prosedur check-in, tidak adanya hiburan live music, busana syar’i bagi staf perempuan hingga atmosfer religius yang terasa sejak tamu memasuki area hotel.
“Banyak tamu awalnya baru sadar ini hotel syariah saat check-in. Tapi justru mereka merasakan kenyamanan dan ketenangan yang berbeda,” jelasnya.
Dengan 11 ruang pertemuan termasuk ballroom, Aston Pekalongan Syariah juga menghadirkan pendekatan unik dalam penyelenggaraan acara. Suasana hotel diperkuat penyediaan perlengkapan alat sholat dan ibadah seperti mukena, sarung sajadah dan buku dzikir di setiap kamar, serta lantunan murottal Al-Qur’an, azan, dan kajian yang diputar terjadwal di area publik hingga kamar.
“Bahkan ada tamu yang bilang suasananya seperti di Makkah atau Madinah,” ungkap Nadia.
Dari sisi pasar, okupansi hotel sangat dipengaruhi karakter Kota Pekalongan. Posisi strategis sebagai kota transit jalur Jakarta- Semarang–Surabaya, kekuatan sektor industri tekstil, Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang kini berkembang, serta identitas sebagai Kota Batik, menjadi penopang utama ttingkat hunian.
“Banyak tamu datang khusus berburu batik, bahkan dari Sumatera, menginap tiga sampai empat hari,”katanya.
Okupansi hotel Kota Pekalongan bersifat fluktuatif. Pada musim liburan dan high season, tingkat hunian kota Pekalongan bisa mencapai 60–65 persen. Sementara tahun ini terjadi penurunan sekitar 30 persen dibanding tahun sebelumnya, terutama akibat efisiensi anggaran sektor pemerintahan.
Meski demikian, ssecara year to date, okupansi masih berada di kisaran 60 persen, dengan lonjakan biasanya terjadi pada periode libur sekolah dan akhir tahun hingga 94 persen,” tambahnya. (Ap3)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
