iklan banner Honda atas

Di Atas Piring, Dialog Rasa Pekalongan–Sulawesi Dorong Inovasi Kuliner Lokal

Di Atas Piring, Dialog Rasa Pekalongan–Sulawesi Dorong Inovasi Kuliner Lokal

Dialog- Kegiatan dialog kuliner bareng pegiat pangan lokal yang berlangsung di Tanda Tanya Coffee, Pekalongan Selatan.-FOTO-Dwi Fusti Hana Pertiwi

Radarpekalongan.co.idMakanan tidak sekadar persoalan rasa, tetapi juga ingatan, identitas, dan peluang ekonomi kreatif. Gagasan inilah yang diangkat dalam acara bertajuk “Di Atas Piring (Ketika Dua Rasa Bertemu)”, sebuah perjumpaan kuliner yang mempertemukan dapur Pekalongan dan Sulawesi dalam ruang dialog yang hangat dan terbuka.

Digelar di Tanda Tanya Coffee, Pekalongan Selatan, Jumat (26/12/2025), acara ini menghadirkan Milchatul, food Enthusiast asal Pekalongan, dan Foel La Ode, pegiat pangan lokal dari Muna, Sulawesi. Keduanya menjadikan makanan sebagai medium bercerita, bertukar gagasan, sekaligus membaca ulang potensi kuliner lokal sebagai bagian dari ekonomi berbasis budaya.

Berbeda dari demo masak atau kelas kuliner, Di Atas Piring dikemas sebagai perjumpaan santai. Peserta diajak mencicipi dan berdiskusi mengenai makanan sebagai bagian dari memori personal dan kolektif yang membentuk identitas suatu daerah.

“Ini sebenarnya acara ngobrol dan icip-icip. Makanan Pekalongan kami konstruksi ulang, misalnya megono kami buat menjadi crackers. Itu respon dari teman-teman setelah mencoba kuliner Pekalongan,” ujar Milchatul.

BACA JUGA:Pembelajaran IPA Tentang Zat Aditif Pewarna Alami Melalui Praktik Membatik Tie-dye

BACA JUGA:Ibu dan 2 Anak Tewas Tertabrak Kereta Api di Pekalongan

BACA JUGA:NU Care LAZISNU Kabupaten Pekalongan Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Puting Beliung di Pedawang

Ia menambahkan, dekonstruksi tersebut bukan bertujuan menghilangkan tradisi, melainkan menghadirkan ulang pangan lokal agar lebih kontekstual dengan selera generasi muda. “Setiap rasa punya cerita. Kalau rasa itu hilang, yang hilang bukan hanya makanannya, tetapi juga kisah, bahan lokal, dan ingatan budaya di baliknya,” jelasnya.

Sementara itu, Foel La Ode menilai pengalaman kuliner di Pekalongan sebagai perjumpaan rasa yang kaya dan bersahabat. Selama dua hari menjelajahi berbagai hidangan lokal di Pekalongan, ia menemukan kesamaan karakter rempah antara kuliner Pekalongan dan Sulawesi.

“Ada rasa yang mengingatkan saya pada Tuna Pampis dari Sulawesi. Bumbunya mirip megono, hanya dibedakan bahan laut dan darat. Ini menunjukkan bagaimana satu rasa bisa punya banyak cerita,” ungkapnya.

Menurut La Ode, kekuatan kuliner Pekalongan terletak pada keseimbangan rasa yang membuatnya mudah diterima oleh banyak lidah. “Tidak sekuat masakan timur yang pedas dan tajam, tetapi justru enak dan nyaman dimakan berulang kali,” tambahnya.

Dukungan juga datang dari pemerintah setempat. Sekretaris Kecamatan Pekalongan Selatan Indria Susanti menyebut kegiatan seperti ini mampu memperluas cara pandang masyarakat terhadap pangan lokal.

“Bahan dasar megono yang dikreasikan menjadi crackers ini menarik. Terutama bagi orang luar Pekalongan, jadi lebih mudah menerima. Ini contoh inovasi tanpa meninggalkan identitas,” ujarnya.

Pihaknya menilai diskusi pangan lokal yang melibatkan komunitas kreatif dan generasi muda sangat penting untuk menjaga keberlanjutan kuliner tradisional sekaligus mendorong nilai tambah ekonomi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: