iklan banner Honda atas

Tapak Menjangan Doro, Wisata Alam Sarat Sejarah dan Jejak Dakwah Ulama

Tapak Menjangan Doro, Wisata Alam Sarat Sejarah dan Jejak Dakwah Ulama

wisata alam tapak menjangan doro pekalongan-Refi Mariska-

DORO, RADARPEKALONGAN. CO. ID – Tapak Menjangan yang terletak di Kecamatan DORO, Kabupaten Pekalongan, tidak hanya dikenal sebagai tempat wisata alam yang sejuk dan indah, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah dan spiritual yang mendalam. Lokasi ini mengandung cerita kisah perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam, yang hingga kini tetap dihormati dan dilestarikan oleh masyarakat sekitar. 

 Kuncen Tapak Menjangan, Ali  menjelaskan bahwa Tapak Menjangan memiliki hubungan erat dengan sosok Mbah Eyang Astro Wijoyo atau Raden Astro Diningsrat dan Syekh Ja’far, yang lebih dikenal sebagai Mbah Singo Pengaji. Keduanya memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di kawasan Gunung Tasik dan sekitarnya, yang pada masa lalu merupakan daerah liar yang dipenuhi hutan. 

Nama Tapak Menjangan berasal dari legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi. Diceritakan bahwa ada sebuah batu yang dianggap sebagai jejak kaki kijang peliharaan Mbah Astro Wijoyo. Jejak tersebut sekarang sudah di bangun bendungan dan menjadi salah satu daya tarik utama bagi para pengunjung yang datang untuk berziarah atau sekadar menikmati keindahan alam. 

Kini, Tapak Menjangan selain dikenal sebagai lokasi ziarah, juga berkembang menjadi tempat wisata alam yang banyak disambangi. Keindahan sungai yang airnya bening, udara yang sejuk, serta panorama pegunungan menjadikan lokasi ini ideal untuk bersantai bersama keluarga. 

Meningkatnya jumlah pengunjung wisatawan membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, terutama bagi para pedagang yang berjualan di area Tapak Menjangan. Mbak Yuli, salah satu penjual makanan dan minuman di tempat wisata ini, merasa bersyukur karena semakin populernya Tapak Menjangan di kalangan masyarakat. 

“Pada akhir pekan atau hari libur, jumlah pengunjung biasanya lebih banyak. Alhamdulillah, jualan saya juga laku,” ungkap Mbak Yuli saat ditemui di lokasi, Jumat, 30 Januari 2026. 

Menurut Mbak Yuli, pengunjung Tapak Menjangan tidak hanya berasal dari Doro, tetapi juga datang dari luar daerah Pekalongan. Banyak di antara mereka yang datang untuk berziarah, lalu melanjutkan dengan menikmati keindahan alam bersama keluarga dan teman-teman. 

“Kebanyakan yang datang adalah kelompok anak muda yang istirahat, berburu camilan, atau menikmati kopi sambil melihat sungai,” tambah Mbak Yuli. 

Ia menyatakan bahwa suasana Tapak Menjangan yang tetap alami merupakan salah satu daya tarik bagi pengunjung untuk betah berlama-lama berada di sana. Kondisi ini membuat para pedagang berharap agar area wisata ini selalu dijaga kebersihan dan kelestariannya. 

Selain memberikan dampak ekonomi, Tapak Menjangan juga memiliki nilai spiritual yang tetap dijaga sampai sekarang. Kegiatan sedekah bumi dan pembersihan makam para ulama dilakukan secara rutin sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dakwah Islam yang telah diwariskan. 

Keberadaan Tapak Menjangan menunjukkan bahwa pariwisata yang berbasis sejarah dan spiritual bisa berjalan bersamaan dengan pariwisata alam. Nilai-nilai budaya dan religius yang ada di lokasi ini tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda untuk memahami sejarah dan kebijaksanaan lokal. 

Dengan potensi alam, sejarah, dan dampak ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat, Tapak Menjangan diharapkan terus berkembang sebagai destinasi wisata religi dan alam unggulan di Kabupaten Pekalongan tanpa melupakan nilai-nilai budaya dan spiritual yang telah diwariskan oleh para leluhur. (wit)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: