Perkuat Literasi AI, FTIK UIN Gusdur Pekalongan Bekali Mahasiswa dengan Integritas Penulisan Ilmiah
Perkuat Literasi AI, FTIK UIN Gusdur Bekali Mahasiswa dengan Integritas Penulisan Ilmiah-Radar Pekalongan/Marisa Hadi-
KAJEN, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) Pekalongan memperkuat literasi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di kalangan mahasiswa melalui program AI Ready ASEAN, Selasa, 10 Februari 2026. Tak sekadar membekali keterampilan teknologi, kegiatan ini juga menegaskan pentingnya menjaga kualitas dan integritas dalam penulisan karya ilmiah.
Sebanyak 164 mahasiswa dari berbagai program studi, antara lain Tadris Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Matematika, PIAUD, serta Tadris Bahasa Indonesia, mengikuti pelatihan tersebut. Program AI Ready ASEAN merupakan inisiatif ASEAN Foundation dengan dukungan Google.org, yang pelaksanaannya dipercayakan kepada Mafindo di 23 provinsi di Indonesia, termasuk Jawa Tengah.
Rektor UIN Gusdur, Muchlisin dalam sambutannya menekankan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan budaya akademik, khususnya dalam tradisi menulis ilmiah. Mahasiswa, menurutnya, tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga wajib menghasilkan karya yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Tahun 2026 ditetapkan sebagai tahun wajib menulis bagi mahasiswa dan dosen Tarbiyah. Seluruh mahasiswa diwajibkan menulis di jurnal minimal Sinta 4. Ini merupakan ketentuan yang tidak dapat ditawar,” tegas Muchlisin.
Ia menjelaskan bahwa AI seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana pendukung dalam proses akademik, terutama dalam membantu pencarian referensi serta pengembangan ide dan gagasan ilmiah. Namun demikian, tradisi menulis tetap menjadi tanggung jawab moral Fakultas Tarbiyah dalam membentuk kontribusi intelektual mahasiswa melalui karya tulis yang orisinal dan berkualitas.
Dalam sesi materi, pemateri Wahyu Rahtawu memaparkan konsep dasar kecerdasan artifisial serta membedakannya dari algoritma dan sistem otomatisasi. Ia menegaskan bahwa AI memiliki kemampuan belajar dari data baru, sehingga pengguna perlu memahami prinsip kerja dan batasannya.
“AI merupakan sistem yang dapat belajar dan terus berkembang dari data baru maupun kesalahan yang terjadi. Hal inilah yang membedakannya dari algoritma dan otomatisasi,” jelas Wahyu.
Peserta juga diperkenalkan pada tahapan kerja AI, mulai dari pengumpulan data, pelatihan model, hingga evaluasi hasil analisis. Pendekatan ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memahami cara kerja teknologi secara konseptual dan kritis.
Perwakilan panitia AI Ready ASEAN, Friska, menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga aplikatif melalui Learning Management System (LMS) yang memuat 15 modul pembelajaran, termasuk etika penggunaan AI, teknik penyusunan perintah (prompting), serta pemanfaatan AI dalam mendukung penulisan karya ilmiah.
“Kami berharap mahasiswa dapat memahami AI tidak hanya dari sisi teori, tetapi juga dari sisi penerapan melalui modul-modul yang dapat dipelajari secara mandiri,” ujar Friska.
Peserta yang menyelesaikan seluruh modul akan memperoleh sertifikat internasional dari ASEAN Foundation yang dapat dimanfaatkan sebagai portofolio akademik. Meski demikian, mahasiswa tetap diimbau untuk tidak bergantung sepenuhnya pada AI dan terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Dari sisi peserta, pelatihan ini dinilai membuka wawasan baru tentang penggunaan AI yang lebih tepat dan bertanggung jawab. Salah satu peserta, Wiwit, menyebut pentingnya menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
“Sebagai generasi saat ini, kita perlu mengikuti perkembangan zaman, salah satunya dengan memahami teknologi AI,” ujar Wiwit.
Ia mengakui sebelumnya belum memahami teknik penyusunan perintah (prompt) secara efektif. Selain itu, materi mengenai etika penggunaan AI menjadi bagian yang paling berkesan baginya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
