iklan banner Honda atas

Negara Indonesia Tak Baik-baik Saja, Ini Penyebabnya Kata Prof Din Syamsuddin

Negara Indonesia Tak Baik-baik Saja, Ini Penyebabnya Kata Prof Din Syamsuddin

Prof Din Syamsuddin saat menjadi pembicara di halal bi halal warga Muhammadiyah dan Aisyiyah Kabupaten Pekalongan di IMBS Miftahul Ulum Pekajangan, Pekalongan, Sabtu, 26 April 2025.-Hadi Waluyo-

KAJEN, RADARPEKALONGAN.CO.ID - Tokoh Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin menilai kondisi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang tak baik-baik saja karena menyimpang dari UUD 1945 yang asli.

"Saya berpendapat kondisi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang carut marut, cerai berai, atau dalam ungkapan yang agak moderat, tidak baik-baik saja, faktor pertama dan utama karena kita menyimpang dari kesepakatan para pendiri bangsa yaitu UUD 1945 yang asli," ujar Prof Din Syamsudin.

Hal itu disampaikannya saat ditemui wartawan usai menjadi pembicara dalam halal bi halal Silatutahim Warga Muhammadiyah dan Aisyiyah Kabupaten Pekalongan di IMBS Miftahul Ulum Pekajangan, Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu, 26 April 2025.

Dikatakan, di dalam UUD 1945 terdapat Pancasila yang dari sudut telaah akademik beririsan dengan Islam. Untuk itu, kata dia, jika bangsa ini ingin maju dan bangkit maka harus kembali ke Pancasila

Baca juga:Prof Din Syamsuddin: NU dan Muhammadiyah Bersatu, Separo Persoalan Bangsa Selesai

"Kembalilah ke khitohnya, Pancasila diterapkan secara sejati," pesan dia.

Ia menegaskan, demokrasi Indonesia bukan demokrasi liberal, yang diterapkan selama ini. Namun, lanjut dia, kehikmatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan. 

"Yang belum selesai kita jabarkan, kita deskripsikan, dan begitu pula sila-sila yang lain, dan terutama bangsa dan negara ini harus berpegang teguh pada agama. Itulah Ketuhanan Yang Maha Esa," tandasnya. 

Dengan agama, Pancasila tegak. Dengan agama, ujar dia, kehidupan bangsa dan negara ini akan semakin maju dan sejahtera. 

"Maka agama jangan diabaikan, justru pemerintah harus mengembangkan kehidupan keberagamaan yang sejati," ujarnya.

Prof Din Syamsudin menyampaikan, siapapun yang diberi amanah kepemimpinan sebagai presiden harus menjalankan sila keempat Pancasila. Yakni Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. 

"Kepemimpinan hikmat, siapapun presiden, dari manapun latar belakangnya, dia begitu tampil di pucuk pimpinan, dia harus menjadi milik seluruh rakyat Republik Indonesia. Di atas dan untuk semua kelompok, bukan untuk partainya, bukan untuk koalisinya, ini yang sering terjadi," tandasnya.

Prof Din Syamsudin sebagai sahabat dekat Presiden Prabowo, dan mengenalnya sejak lama, menaruh harapan akan keberhasilan kepemimpinan Presiden Prabowo. 

"Saya tahu persis komitmen kerakyatannya, komitmen kebangsaan dan kenegaraannya, sangat kuat sekali. Maka saya menaruh harapan harus berhasil sampai ke ujung dari masa pengabdiannya 2029, maka jangan sampai ada apa-apa di tengah jalan," katanya. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: