BATANG – Sebanyak lebih dari 10.000 nelayan di Kabupaten Batang menghentikan sementara aktivitas melaut menyusul cuaca ekstrem yang memicu gelombang tinggi dan angin kencang di perairan.
Fenomena tahunan ini diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Februari mendatang.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmudjo, mengonfirmasi bahwa puncak musim baratan terjadi dalam beberapa hari terakhir.
"Dari pantai saja ombak besar sudah jelas terlihat. Keselamatan adalah prioritas utama," ujarnya, Rabu (14/1/2026).
BACA JUGA:Bansos Kerap Jadi Masalah, Operator Desa Curhat ke Bupati Faiz Minta Perbaikan Data
Menurut Teguh, periode Desember hingga Februari merupakan puncak musim penghujan dengan kondisi laut yang kerap tidak bersahabat.
Mayoritas nelayan, baik skala kecil maupun menengah, memanfaatkan masa jeda ini untuk memperbaiki alat tangkap, kapal, serta perlengkapan lainnya.
Dampak ekonomi langsung dirasakan masyarakat pesisir. Teguh menegaskan bahwa nelayan tidak memiliki pendapatan tetap.
"Jika tidak melaut, tidak ada penghasilan. Ini adalah masa paceklik yang dipaksa oleh alam," katanya.
Secara administratif, peluang melaut masih terbuka karena Syahbandar Perikanan belum menghentikan penerbitan izin berlayar. Namun, hal ini menciptakan dilema antara mempertaruhkan keselamatan dan tekanan memenuhi kebutuhan ekonomi.
"Kami tidak bisa melarang sepenuhnya karena tuntutan hidup. Berbeda dengan pekerja tetap, penghasilan nelayan seratus persen bergantung pada tangkapan," jelas Teguh.
Data HNSI mencatat sebanyak 10.145 nelayan di Batang yang tergabung dalam 18 kelompok rukun nelayan. Mereka tersebar di enam Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang berlokasi di Klidang Lor, Roban Barat, Roban Timur, Celong, dan Seklayu, dengan Kecamatan Batang sebagai sentra terbesarnya.
Para nelayan kini berharap cuaca segera membaik sehingga aktivitas perikanan dapat kembali normal tanpa harus diwarnai ancaman keselamatan di laut lepas.