Sementara itu, peserta muda turut menunjukkan ketertarikannya terhadap batik. Anggun Udana Fitri Ayudia, 19, mahasiswa Universitas Pekalongan (Unikal), menjadi salah satu peserta muda dalam lomba tersebut.
Menurut Anggun, membatik menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi generasi muda karena memberikan kesempatan untuk melanjutkan budaya yang telah berkembang sejak dahulu. Latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan batik juga membantunya menuangkan pengetahuan yang diperoleh ke dalam karya lomba.
BACA JUGA:Viral Diberitakan Terlantar, Keluarga Balita Korban Keracunan MBG di Batang Beri Klarifikasi
BACA JUGA:Top 4 Bedak Tabur untuk Kulit Kering Harga Terjangkau, Cocok Bagi Pemula
“Seru. Kita seperti melanjutkan budaya kita dari dulu,” kata Anggun.
Kurator Museum Batik Pekalongan, Gavi mengatakan kategori umum sengaja dibuka untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat. Tahun ini, jumlah peserta juga diperbanyak dibandingkan tahun sebelumnya yang dibatasi 50 peserta.
“Harapannya semua kalangan dapat ikut terlibat. Alhamdulillah, kuota yang kami tambah bisa terpenuhi,” ujarnya.
Menurutnya, tema ragam hias batik pesisiran relatif terbuka untuk dikembangkan karena karakter batik pesisiran lebih dinamis, antara lain melalui penggambaran flora dan fauna.
BACA JUGA:Top 4 Bedak Tabur untuk Kulit Kering Harga Terjangkau, Cocok Bagi Pemula
BACA JUGA:Jangan Salah Pilih, Ini 4 Sabun Muka yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam
Dari sisi peserta, sebagian besar sudah memiliki pengalaman membatik. Namun, terdapat pula mahasiswa yang mulai berkecimpung dalam dunia perbatikan dan memanfaatkan lomba sebagai sarana belajar serta menambah pengalaman.
Penilaian lomba dilakukan dengan melihat kesesuaian karya dengan tema yang telah ditentukan. Museum juga melibatkan pembatik senior sebagai dewan juri untuk menilai hasil karya peserta.
Untuk kategori umum, panitia menyediakan penghargaan bagi juara 1 hingga 3 serta juara harapan 1 hingga 3. Juara pertama memperoleh Rp2 juta, juara kedua Rp1,75 juta, dan juara ketiga Rp1 juta. Sementara juara harapan 1 mendapat Rp750 ribu, harapan 2 Rp500 ribu, dan harapan 3 Rp250 ribu.
Pihaknya mengatakan, lomba tersebut tidak hanya diarahkan untuk mencari pemenang, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Museum Batik Pekalongan dalam menjaga keberlanjutan budaya membatik.
“Harapannya batik tetap lestari. Ini juga menjadi wadah dan ruang apresiasi bagi para pembatik. Salah satu tugas museum adalah mengedukasi sekaligus menjadi ruang apresiasi,” katanya. (Ap3)