Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan bahwa Jawa Tengah memiliki 5.400 pondok pesantren dan 555 ribu santri. Ia ingin ratusan ribu santri itu dapat mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah, terutama melalui kewirausahaan dan pengentasan kemiskinan.
"Para santri harus mampu menjadi benteng terakhir dan garda terdepan dalam membangun daerahnya, mulai dari kabupaten hingga provinsi. Dengan cara apa? Menyejahterakan masyarakat dengan mengurangi angka kemiskinan," kata Luthfi usia upacara.
Keberadaan ratusan ribu santri yang tersebar di ribuan pondok pesantren dinilai menjadi potensi besar untuk mendukung pembangunan ekonomi, termasuk melahirkan santri yang mandiri dan memiliki jiwa kewirausahaan.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemprov Jateng menjalankan program Pesantren Obah yang dinahkodai Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, dengan melibatkan Kementerian Agama dan berbagai pihak terkait.
Program itu mencakup beasiswa pendidikan, bantuan pondok pesantren, pengembangan usaha santri, hingga insentif guru madrasah diniyah (madin).
“Provinsi Jawa Tengah telah memberikan beasiswa kepada 488 santri, termasuk santri penggerak. Kita juga memberikan beasiswa kepada santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Yaman, Mesir, dan negara lainnya, sebanyak 58 santri,” katanya.
Selain itu, Pemprov Jateng juga melanjutkan program insentif guru agama yang pada 2025 menjangkau 230.830 penerima dengan total anggaran sekitar Rp277 miliar.
Dalam rangkaian upacara tersebut, Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen juga menyerahkan bantuan renovasi kepada empat pondok pesantren di Kota Tegal, masing-masing Rp25 juta.
Bantuan diberikan kepada Ponpes Al Munawarroh Margadana, Nurul Ma’arif, Insan Tebuireng, dan Mambaul Ulum. Selain itu, diserahkan insentif bagi 1.390 pengajar keagamaan senilai Rp834 juta, serta bantuan 300 paket sembako. Total bantuan renovasi dan insentif pengajar keagamaan mencapai Rp934 juta.