Banner Iklan BYD
banner honda terbaru 2026

Sejak SD Belajar Membatik, Maulida Kini Juara Artisan Batik dan Tembus Pasar Eropa

Sejak SD Belajar Membatik, Maulida Kini Juara Artisan Batik dan Tembus Pasar Eropa

Sejak SD Belajar Membatik, Maulida Kini Juara Artisan Batik dan Tembus Pasar Eropa-IST-

BATANG, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Aroma malam yang dipanaskan dan goresan canting di atas kain sudah menjadi bagian dari keseharian Maulida Muyasarah sejak kecil. Di saat sebagian anak seusianya menghabiskan waktu dengan bermain, perempuan asal Kelurahan Watusalit, Kecamatan Batang, ini justru mulai belajar merawat warisan budaya melalui selembar kain batik.

Kini, ketekunan yang dijalaninya selama bertahun-tahun membuahkan prestasi. Pada ajang Kenduri Batik yang digelar di objek wisata Si Kembang Park, Kecamatan Blado, Maulida berhasil meraih juara kategori artisan batik.

Di usianya yang baru 23 tahun, Maulida telah membuktikan bahwa membatik bukan sekadar keterampilan turun-temurun. Baginya, aktivitas tersebut juga menjadi jalan untuk bertahan, mandiri, sekaligus menjaga tradisi leluhur agar tetap hidup di tengah generasi muda.

Perkenalannya dengan dunia batik bermula saat masih duduk di kelas 4 sekolah dasar. Sang ibu menjadi orang pertama yang mengenalkan teknik membatik kepadanya.

Pada awal belajar, Maulida belum dipercaya mengerjakan keseluruhan motif. Ia hanya mendapat bagian isen-isen atau mengisi detail pola, sedangkan bagian klowongan yang membentuk kerangka utama motif masih dikerjakan ibunya.

"Dulu pas pertama belajar itu ya, belajar nyantingnya, cuma bikin isen-isen. Belum klowongan. Kalau klowongan ini yang bikin ibu," kenangnya, Kamis (5/11/2026).

Seiring waktu, keterampilan Maulida semakin berkembang. Bahkan, membatik kemudian menjadi salah satu penopang penting dalam perjalanan pendidikannya.

Sejak SMP hingga SMA, hasil penjualan kain batik yang dikerjakannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Uang dari membatik membantu membeli buku dan perlengkapan belajar, bahkan digunakan untuk menebus ijazah kelulusannya.

Saat itu, satu kain batik hasil karyanya bisa dihargai sekitar Rp800 ribu. Nilai yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi sangat berarti bagi Maulida.

Pilihan untuk terus menekuni batik terkadang membuatnya mendapat pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya. Apalagi, ketika banyak peluang pekerjaan lain yang bisa dipilih anak muda seusianya.

Namun, Maulida tidak mudah berpaling. Ia ingin tetap berada di jalur yang sudah dikenalnya sejak kecil, sekaligus ikut menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

 

Tiga Bulan Menyelesaikan Karya Kontemporer

Prestasi Maulida di Kenduri Batik tidak lepas dari karya yang ditampilkannya. Ia menghadirkan batik bertajuk Gundukan Pohon Hayat Kontemporer, sebuah karya yang memadukan unsur tradisi dan pengembangan motif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: