Ia pun mengalami kerugian belasan juta rupiah. "Empat ekor kambing dewasa dan lima ekor cempe mati. Kambing-kambing ini mulai terserang gatal-gatal di penghujung musim hujan kemarin hingga memasuki musim pancaroba ini," tutur dia.
Diterangkan, kambing yang mati itu terserang penyakit gatal-gatal. Nafsu makan pun menurun. Kambing-kambing itu akhirnya kurus dan mati.
Selain kambing miliknya, sejumlah kambing milik tetangganya juga banyak yang mati. Di antaranya milik Wari dan H Roat di Dukuh Kayunan Barat dan Amir di Dukuh Kayunan Wetan.
"Bukan hanya kambing milik saya saja yang mati. Dua atau tiga ekor kambing milik Wari juga mati. Satu ekor milik H Roat juga mati. Akhirnya kami banyak menjual kambing dengan anakannya karena takut mati juga," ungkap dia.
Diakuinya, di tengah pandemi Covid-19 banyak warga yang beternak kambing dan bebek untuk menambah penghasilan. Namun diakuinya pengetahuan budidaya ternak kambing dan bebek masih didapatkan secara otodidak dengan bertanya kepada para peternak lainnya atau belajar di yuotube. Sehingga kemampuan beternak mereka masih terbatas. (had)