Relokasi Gagal, Warga Simonet Kecewa

Rabu 01-09-2021,12:00 WIB

Akibat tambaknya hilang tersapu abrasi, ia kini bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Kadang menjadi tukang kayu. Kadang mencari kepiting atau memancing ikan.

"Kita hadapi rintangan apapun. Harus kuat dan sehat. Apapun harus kita syukuri," ujar dia.

Suroso pun menggambarkan hebatnya abrasi di pedukuhan itu. Diceritakan, rumahnya dulu bukan yang saat ini ditempati. Ia pindah rumah karena rumah lamanya terkena abrasi.

"Saya pindah ke sini 2021, dulu rumah saya di ujung tambak ini. Di sana karena kena ombak pindah ke sini. Saya ndak ngira kena abrasi wong jaraknya 1 km dari laut. Ternyata kena," ujar dia.

Disinggung soal relokasi, warga setempat sudah setuju untuk direlokasi. Meskipun mereka masih memikirkan soal sumber penghasilan jika direlokasi nanti.

"Tidur nyaman tapi penghasilan sulit bagaimana mas. Di sini walau tidur susah tapi penghasilan mudah dicari. Pasang-pasang kepiting," ungkap dia.

TERISOLIR

Akibat dihajar abrasi dan banjir rob pasang laut, warga Dukuh Simonet kondisinya kian terisolir. Satu-satunya akses jalan darat yang menghubungkan dukuh itu dengan daerah luar rusak tergerus abrasi dan terendam pasang laut. Padahal jalan utama menuju ke Desa Depok, Kecamatan Siwalan ini vital bagi warga setempat, terutama akses pendidikan.

"Ini jalan utama, namun sudah tergerus abrasi sehingga terputus. Warga tetap lewat sini tapi menunggu arus surut. Ndak bisa sewaktu-waktu dilewati. Air surut saja susah dilalui, apalagi air pasang," kata dia.

Oleh karena itu, warga sudah beberapa kali bergotong-royong membuat tanggul dan meninggikan jalan tersebut agar bisa dilalui dan lebih aman.

"Ini ditinggikan sekitar 1 meter agar bisa dilewati. Satu-satunya jalan ini, ndak bisa yang lain. Dulunya lebar 4 meter, bisa dilewati. Putus sejak Juni 2020 akibat abrasi dan pasang laut besar," katanya.

Sementara itu, Ketua RT 14 RW 06, Sunaryo (59), mengatakan, warga bekerja bakti membuat jalan agar aksesibilitas warga tidak terputus. "Sebentar lagi sekitar jam 15.00 WIB, jalan ini kebanjiran karena air pasang sehingga jalan tidak bisa dilewati. Jika warga tidak bergotong-royong yang jelas ndak bisa lewat. Ini jalur utama warga," terang dia.

Menurutnya, warga membuat jalan sak sak dari bambu agar jalur itu bisa dilalui meski ada rob dan pasang. "Bambu ini yang beli pribadi karena kita butuh jalan biar bisa dilewati. Panjang jalan ini sekitar 100 meteran. Bikin saksak lebar 120 cm," katanya.

Ditambahkan, warga yang bertahan di RT 14 sekitar 26 rumah, dulu ada 38 rumah. Yang pindah ada 12 rumah karena rusak. Warga ngontrak di Semut," terang dia. (had)

Tags :
Kategori :

Terkait