Relokasi Solusi Ideal Untuk Simonet

Jumat 05-02-2021,15:00 WIB

KAJEN - Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menilai relokasi merupakan solusi ideal untuk mengatasi persoalan abrasi dan banjir rob di Dukuh Simonet, Desa Semut, Kecamatan Wonokerto.

"Dulu kita sudah memerintahkan pemdes untuk melakukan pendataan, sekaligus sudah kita carikan lokasi relokasi. Memang jawaban paling ideal untuk kasus Simonet adalah relokasi," ujar Bupati Asip Kholbihi saat ditanya pemecahan persoalan di Simonet, kemarin.

Dikatakan, pada awal usulan relokasi dilontarkan pemkab, pro dan kontra di kalangan masayarakat masih ada. Namun, kata dia, pro kontra itu sekarang tidak ada lagi. Semua warga setempat setuju untuk direlokasi.

"Sekarang secara umum mereka siap pindah tetapi disediakan rumahnya," kata Bupati.

Pemkab Pekalongan, lanjut Bupati, sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat melalui PUPR, untuk meminta bantuan perumahan nelayan. "Karena itu kan warga nelayan yang direlokasi. Mudah-mudahan bisa terealisasi," harap Asip.

Secara prinsip, ujar dia, persiapan untuk relokasi sudah dimulai oleh Pemkab Pekalongan. Lahan untuk relokasi masih di sekitar Desa Semut. "Masih dalam satu desa," ungkapnya.

Disinggung target relokasi, ia mengatakan, sebenarnya target sudah dimulai tahun 2020 lalu. Namun karena satu dan lain hal jadi mundur. "Tapi ini sudah cukup mendesak. Nanti kalau memang kondisinya sudah sangat memprihatinkan, mereka bisa mengungsi dulu sambil menunggu realisasi. Tapi secara prinsip pemkab sudah memiliki grand desain untuk relokasi," ujar Bupati.

Sebelumnya diberitakan, 'pulau' Simonet, Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan masih terus diterjang gelombang laut yang ganas. Bahkan ketinggian gelombang laut sampai 3 meter.

Oleh karena itu, warga setempat kemarin bergotong-royong membangun tanggul darurat dengan karung besar berisi pasir. Tanggul darurat ini diharapkan bisa menahan gempuran gelombang laut yang kian ganas, dan mencegah abrasi semakin parah.

Selain itu, warga juga membuat akses jalan menggunakan tumpukan karung pasir agar bisa dilewati warga. Akses jalan ini penting untuk mobilitas warga karena perkampungan di pesisir ini selalu terendam banjir rob.

Ketua RT 14 RW 6 Dukuh Simonet, Sunaryo, kemarin, mengatakan, jumlah rumah yang dikosongkan kian bertambah. Jika sebelumnya ada delapan rumah yang dikosongkan, saat ini ada 12 rumah yang sudah tidak dihuni. Pasalnya, kondisi rumah tersebut rusak parah.

Selain itu, lanjut dia, ada 28 rumah yang terdampak dan masih ditinggali penghuninya.

"Rumahnya saya, pak Daesan, Turah, dan rumahnya Tarmudi masih ditinggali. Walaupun pasir masuk ke dalam rumah," terang dia.

Ia menceritakan, pada tahun 2015, jarak rumah dari bibir pantai itu sekitar 1 km. Namun sekarang, bibir pantai sudah berada di depan rumah. Saat disinggung kenapa masih bertahan di lokasi, ia mengatakan, sudah tidak ada tempat lagi jika pindah ke lokasi yang lain.

"Walaupun air laut masuk ke rumah, saya masih bertahan karena sudah tidak ada tempat yang bisa dihuni lagi. Mau pindah tidak punya uang," tandasnya.

Tags :
Kategori :

Terkait