Simonet jadi 'Lautan', Puluhan Rumah Rusak

Senin 15-03-2021,10:58 WIB

Meski diterjang banjir rob, warga masih bertahan di rumah. Untuk memenuhi kebutuhan makan, kata dia, warga setempat membuka dapur umum. Total warga di Simonet ada 70 KK, dengan 265 jiwa.

"Banjir rob sejak tiga hari terakhir. Semua rumah terendam. Kami ingin relokasi dipercepat," kata dia.

Sementara itu, M Rofik Maulana, relawan PMI Kabupaten Pekalongan mengatakan, PMI bersama TNI Al menyerahkan bantuan sayuran untuk warga Simonet agar dimasak di dapur umum.

"Sayur-sayuran ini merupakan bantuan dari PMI Boyolali dan semoga bantuan ini bermanfaat untuk warga Dukuh Simonet," katanya.

TERANCAM TENGGELAM

Pulau Simonet di Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan terancam tenggelam jika abrasi di wilayah itu tidak ditangani. Sejak bulan Juni 2020 hingga sekarang, sekitar 500 meter daratan sudah tenggelam akibat abrasi.

Pedukuhan seluas 15 hektar ini dinilai sudah tak laik huni. Pasalnya, abrasi di pedukuhan yang berbatasan langsung dengan laut utara Jawa ini sangat parah. Terjangan air pasang laut juga kian membahayakan nyawa warga setempat.

Sholati (37), warga Dukuh Simonet, Selasa (26/1/2021), mengatakan, lokasi rumahnya dengan bibir pantai dulu jaraknya jauh. Namun saat ini bibir pantai sudah di teras rumahnya. Artinya, ratusan meter daratan sudah tenggelam akibat abrasi.

"Dulunya masih jauh dari bibir pantai," kata dia.

Dikatakan, abrasi kian parah sejak bulan Juni 2020. Saat itu pedukuhan Simonet juga terendam banjir rob setinggi 1,4 meter. Sehingga seluruh warganya mengungsi.

"Awalnya saya mengungsi selama satu bulan. Saat pulang, rumah di sini keadaannya sudah seperti ini lha terus saya ngontrak di Desa Semut," kata dia.

Menurutnya, rumahnya saat ini tak mungkin lagi dipertahankan karena terancam abrasi dan dihajar air pasang laut.

"Rumah mau dipertahankan seperti apa wong keadaannya seperti ini. Takut ra. Gelombang air laut masuk ke rumah. Kadang air naik hingga ke atap rumah," tutur dia.

Oleh karena itu, ia sangat senang dengan rencana pemerintah untuk merelokasi warga setempat. Ia bahkan berharap agar relokasi segera dilakukan.

"Saya siap sekali jika direlokasi. Saya minta untuk bisa segera dibangunkan rumah. Sejak bayi saya hidup di sini. Emang kehidupannya di sini. Namun dengan kondisi yang ada seperti ini, saya siap dipindah ke tempat yang lebih aman," ujar dia.

Sementara itu, Joyo, mengatakan, kondisi abrasi parah di Dukuh Simonet terjadi sejak 6 Juni 2020. Menurutnya, jarak rumah warga dengan bibir pantai dulunya cukup jauh. Jaraknya sekitar 500 meteran dari bibir pantai.

Tags :
Kategori :

Terkait