"Tapi sejak bulan Juni 2020, abrasinya begitu luar biasa. Rumah-rumah hancur semua kena abrasi. Apalagi saat gelombang tinggi dan angin kencang, sulit dibayangkan. Warga itu mencari tempat perlindungan ke lokasi yang paling tinggi di sini pun masih rawan," terang dia.
Menurutnya, sudah ada delapan rumah yang rusak, sehingga dikosongkan oleh penghuninya. Empat rumah lainnya terancam rusak.
"Warga ingin direlokasi secepatnya, karena warga sudah tidak nyaman di sini," ujar dia.
KEBUN MELATI DAN TAMBAK HANCUR
Selain menghancurkan rumah warga, abrasi dan gempuran air pasang laut telah menghancurkan tanaman melati dan tambak di wilayah itu. "Akibat terkena rob yang sangat besar, petani mengalami kerugian yang luar biasa," ungkap dia.
Ditambahkan, untuk rumah yang rusak sudah tidak lagi ditinggali oleh para penghuninya. Mereka ada yang mencari kontrakan di Desa Semut, Blacanan, dan lainnya. "Yang masih bertahan di sini 60 KK. Keseluruhan 70 KK. Untuk jiwanya di Dukuh Simonet ini ada 265 jiwa," terang dia.
Seluruh warga di Dukuh Simonet, lanjut dia, siap untuk direloksi. Bahkan warga berharap relokasi segera dilakukan. "Untuk abrasinya sekitar 500 meteran dari bibir pantai," imbuh dia. (had)