Muhadjir menerangkan, sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, target Indonesia dalam penanganan Covid-19 adalah menekan jumlah kasus, menaikkan tingkat kesembuhan pasien, dan memperkecil atau menurunkan jumlah fatalitas. "Target kita adalah di bawah rata-rata internasional dalam waktu yang tidak lama lagi," terangnya.
Ditanya mengenai terus meningkatnya jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19, Muhadjir menjelaskan bahwa hal itu antara lain lantaran saat ini jumlah pelaksanaan tiga T yaitu testing, tracing, dan treatment semakin banyak.
"Sehingga otomatis ketika tracing banyak maka kasusnya juga akan ditemukan semakin banyak. Kemudian, pemerintah juga sudah memperhatikan penanganan dalam berbagai lapisan, mulai dari mereka yang positif dan OTG (orang tanpa gejala) sudah ditangani, menjalani isolasi mandiri. Bahkan di beberapa sudah disiapkan hotel. Di Kota Pekalongan sendiri mereka yang OTG ditampung di Gedung Diklat. Ini salah satu upaya untuk memperkecil terjadinya proses penularan dari OTG," katanya.
"Yang memang sudah ada tanda-tanda sakit harus diisolasi di rumah sakit. Sementara kalau sudah stadium lanjut harus ditangani di ruang ICU, dan juga ditampung di ruang isolasi bertekanan negatif," imbuhnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Bendan, dr Junaidi Wibawa, mengakui kenyataan masih kurangnya ruang isolasi ataupun peralatan yang dibutuhkan untuk menangani pasien-pasien Covid-19.
"Untuk isolasi, sebenarnya kita mempunyai 18 tempat tidur, tetapi dari pengalaman ternyata pasien-pasien kita banyak yang dalam kondisi yang berat, membutuhkan ruang tekanan negatif dan juga ventilator. Sementara, ketersediaan kita hanya dua kamar dengan ventilator dan tekanan negatif," ungkapnya.
Untuk itu, pihaknya merencanakan untuk membangun empat ruang lagi, yang mana tadinya ruangan tersebut hanya untuk aliran udara biasa, akan dibangun menjadi ruang dengan tekanan negatif dilengkapi ventilator.
"Sementara ini kita membatasi jumlah pasien yang masuk dulu, biar ruangan itu bisa kita perbaiki. Karena tidak mungkin kita memperbaiki sementara di sebelahnya masih ada pasien yang membutuhkan penanganan khusus," katanya.
Junaidi menambahkan, pihaknya juga sudah menyiapkan empat tempat tidur di IGD sebagai ruang isolasi darurat Covid-19. "Di IGD sekarang sudah ada pasien tetapi sudah kita isolasi, kita pisahkan dengan yang lain," ujarnya.
Dia juga menyebutkan, perkembangan sampai kemarin sudah tidak ada lagi pasien yang dirawat di ruang tekanan negatif. Sedangkan pasien Covid-19 yang masih dirawat di RSUD Bendan masih ada 12 pasien. Mereka semuanya dalam kondisi baik.
"Sebenarnya mereka sudah boleh pulang, namun sedang menunggu hasil swab terakhir. Kemarin swab sudah, kalau nanti malam hasilnya keluar negatif, besok ada enam atau tujuh pasien yang bisa pulang," tuturnya.
Mengenai kebutuhan alat ventilator, menurutnya idealnya sesuai dengan jumlah ruang isolasi yang disediakan.
"Sebenarnya kalau memang kita sudah siap membuka 18 kamar ya kita harusnya 18 (ada ventilator) semua. Tetapi kita tidak bisa menolak pasien yang memang seharusnya kita rawat," ujarnya.
"Kalau sekarang, dengan kondisi ketersediaan kamar yang seperti itu, kalau masih bisa kita rawat ya kita rawat. Kalau tidak, karena kita sebagai rumah sakit lini dua, ya akan kita rujuk ke rumah sakit lini pertama. Yang paling dekat adalah RSUD Kraton, kemudian RS Kardinah, RS Susilo, RSUD Kendal, dan RS di Semarang," pungkas Junaidi.
Sementara itu, Wali Kota HM Saelany Machfudz menyatakan bahwa pihaknya sudah menyampaikan kepada Menko PMK tentang kurangnya fasilitas yang dimiliki untuk menangani pasien Covid-19.
"Sudah kita sampaikan kekurangan yang kita miliki, dan sudah direspon, bahwa kita disuruh membuat surat tentang apa yang menjadi kekurangan kita di sini, khususnya terkait Covid-19. Kami menyampaikan terima kasih dan mudah-mudahan akan bisa segera ditindaklanjuti dan terus komunikasi dengan beliau untuk penanganannya dan Alhamdulillah beliau mendukung," terang Saelany.