**Tak Bisa Diobati
PETUNGKRIYONO - Virus gemini atau penyakit kuning yang menyerang tanaman cabai tidak bisa diobati. Tanaman yang terlanjur terserang virus gemini harus dicabut.
Demikian disampaikan Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan, Muh Isrin, kemarin. Virus gemini memang belum ada obatnya, namun penyakit ini bisa dicegah dengan mengendalikan vektornya.
"Kebanyakan penyakitnya virus gemini atau petani biasa nyebutnya penyakit kuning. Itu disebabkan oleh apis sebagai vektornya. Kalau sudah kena virus tidak bisa disembuhkan," terang dia.
Petani, kata dia, hanya bisa mengendalikan vektornya atau apisnya. Yakni gunakan insektisida. "Dampak virus gemini tidak bisa disembuhkan. Bisa gagal panen. Pengendalian kalau sudah kena dicabut terus vektornya kita kendalikan dengan insektisida," ujarnya.
Penyakit lain yang kerap menyerang tanaman cabai ialah busuk buah. Ini disebabkan oleh bakteri. "Kalau busuk buah dikendalikan dengan bakterisida," terang dia.
Hama dan penyakit tanaman itu salah satu pemicunya adalah faktor cuaca. Meskipun musim kemarau, lanjut dia, dalam beberapa tahun ini kemaraunya basah.
"Meskipun kemarau masih banyak hujan, sehingga kelembaban tinggi. Jika terserang penyakit itu, produktivitasnya rendah, maka harga cabai tinggi," ungkapnya.
Keluhan virus gemini memang kerap dilontarkan petani cabai. Pasalnya, petani hingga saat ini tak bisa mengatasinya. Saat serangan mengganas, banyak petani cabai gagal panen.
Petani cabai dari Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Ari Winarto (39), mengaku memutuskan untuk berhenti membudidayakan tanaman cabai pada akhir tahun 2018 karena tanaman cabainya diserang virus gemini. "Tanaman cabai pada akhir tahun 2018 banyak yang terserang virus kuning atau gemini.
Tanaman tiba-tiba daunnya kuning dan tanaman kerdil. Jika satu tanaman sudah terserang virus ini, seluruh tanaman cabai di kebun akhirnya terserang semua. Hampir 75 persen tanaman saya waktu itu terkena virus ini," terang dia.
Disebutkan, saat itu ia menanam tanaman cabai sekitar 10 ribu bibit tanaman, di atas lahan seluas 0,6 hektare. Akibat serangan virus tersebut, saat panen dirinya hanya mendapatkan uang Rp 2,6 juta, sehingga mengalami kerugian Rp 20 juta.
"Serangan gemini mulai ada di akhir tahun 2018. Saya sudah berupaya mengatasinya, namun belum bisa," keluhnya.
Selain serangan virus gemini, lanjut dia, kondisi cuaca saat ini tidak menguntungkan petani cabai. Pasalnya, cuaca akstrem dan sulit ditebak. Di musim kemarau panjang, kata dia, hujan terkadang masih mengguyur wilayah pegunungan tersebut, sehingga pertumbuhan tanaman kurang baik.
Keluhan serupa disampaikan Nurhalimin, petani cabai dari Desa Kasimpar. Dikatakan, petani cabai saat ini terpuruk dengan serangan virus gemini. Tandanya, daun berwarna kuning, tanaman kerdil, dan buahnya sedikit. Bahkan terkadang tidak berbuah. "Serangan virus gemini ini sudah terjadi selama beberapa tahun ini, terutama di Pulau Jawa ini. Kita belum bisa mengatasinya," tutur dia.