Namun, kepemimpinannya tidak lepas dari isu kontroversial, seperti dugaan penyiksaan terhadap atlet-atlet yang terlibat dalam pemberontakan di Bahrain pada tahun 2011.
BACA JUGA:Curhatan Shin Tae-yong Usai Timnas Indonesia dirampok” di Bahrain dan kalah di China
Meski tuduhan pelanggaran HAM terus menghantui, namun Salman berhasil terpilih kembali sebagai Presiden AFC, bahkan menjabat sebagai Wakil Presiden FIFA sejak 2018.
Langkah-langkahnya sering kali memicu konflik kepentingan, terutama di kalangan negara-negara Timur Tengah.
Meski ada banyak pihak yang menentang, namun Salman tetap berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu tokoh penting di dunia sepak bola internasional.
BACA JUGA:PSSI Akan Evaluasi Kinerja Timnas Indonesia Pasca Kekalahan Kontra China
Pada tahun 2024, AFC bahkan mengubah aturan batas masa jabatan, sehingga memungkinkan Salman untuk terus menjabat lebih dari 12 tahun, yang akhirnya memicu kekhawatiran akan potensi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di masa mendatang.
Kontroversi semacam ini tampaknya akan terus membayangi AFC selama Salman masih memegang kendali di puncak organisasi.
Kontroversi yang melingkupi Salman bin Ibrahim Al Khalifah menunjukkan bagaimana kekuasaan di sepak bola dapat dipertahankan melalui jaringan politik dan koneksi keluarga.
Meskipun tuduhan pelanggaran HAM dan konflik kepentingan terus menghantui, namun Salman berhasil mempertahankan posisinya sebagai Presiden AFC dan Wakil Presiden FIFA.
Perubahan aturan masa jabatan pada tahun 2024, yang memungkinkan dirinya untuk terus menjabat lebih dari 12 tahun juga menjadi sinyal bahaya bagi integritas organisasi sepak bola Asia.
Kasus yang menimpa Indonesia dalam laga melawan Bahrain hanyalah salah satu contoh bagaimana keputusan-keputusan yang merugikan bisa memunculkan spekulasi tentang praktik tidak adil di level internasional.
BACA JUGA:Kabar Gembira Timnas! 3 Pemain Grade A Resmi Bergabung dengan Timnas Indonesia, Siapa Saja?
Selama AFC masih berada di bawah kepemimpinan Salman, banyak pihak yang khawatir bahwa insiden-insiden semacam ini akan terus berulang, sehingga dapat menodai semangat fair play dan integritas olahraga yang seharusnya dijunjung tinggi.
Sepak bola Asia mungkin membutuhkan reformasi besar untuk mengembalikan kepercayaan publik.