Kasus Gizi Buruk di Batang, DPRD Soroti Program MBG Jangan Asal-asalan
Ketua dan anggota Komisi IV DPRD Batang saat menjenguk balita yang mengalami gizi buruk dan tengah menjalani perawatan di RSUD Batang.-Istimewa -
BATANG – Temuan balita penderita gizi buruk di Desa Lebo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten BATANG, mendapat sorotan tajam dari DPRD setempat. Ketua Komisi IV DPRD BATANG, H. Tofani Dwi Arianto, mengingatkan agar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dilakukan secara serampangan dan mengutamakan keuntungan bisnis semata.
Peringatan itu disampaikan Tofani saat menjenguk Zafran Defano Alfarizki (2,5 tahun), balita yang masih menjalani perawatan intensif di RSUD Kalisari Batang. Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut, anggota Komisi IV DPRD Batang, Muhammad Hanif Afdlolurrohman, Kamis (14/5/2026).
Menurut Tofani, Program MBG memiliki potensi besar untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi warga. Namun, ia menekankan bahwa pelaksanaan di lapangan harus profesional dan tepat sasaran.
"Program makan bergizi gratis itu sangat bagus. Tapi melihat kasus stunting di Gringsing ini sangat memprihatinkan, saya berharap program tersebut benar-benar dijalankan dengan baik," ujarnya.
BACA JUGA:Komisi IV DPRD Batang Jenguk Bocah Luka Bakar, Minta Pemda Tanggung Biaya Perawatan hingga Sembuh
BACA JUGA:Bupati Batang Fokus Percepatan Publik, MPP Catat 3.337 Layanan Tanpa Kendala
Politisi PDI Perjuangan itu menilai, kunci utama keberhasilan MBG terletak pada ketepatan sasaran penerima manfaat. Kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak stunting, hingga remaja putri harus menjadi prioritas.
Tofani menjelaskan, jangkauan terhadap remaja putri dapat dilakukan melalui jalur sekolah. Sementara itu, pemantauan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita stunting bisa dioptimalkan lewat posyandu di tingkat desa atau kelurahan.
Ia juga mengingatkan penyelenggara program agar tidak terjebak pada orientasi keuntungan semata. Kualitas makanan yang layak konsumsi dan memenuhi standar kesehatan wajib diutamakan.
"Jangan hanya memikirkan cuan atau keuntungan, tetapi juga harus menjalankan program seperti yang diinginkan pemerintah untuk memberikan gizi yang baik," tegasnya.
Tofani menyoroti sejumlah persoalan yang pernah terjadi dalam pelaksanaan MBG di berbagai daerah, seperti kasus keracunan makanan hingga temuan makanan yang tidak higienis. Ia mencontohkan kejadian di Kecamatan Pecalungan, di mana makanan ditemukan mengandung lalat.
"Jangan asal-asalan. Kemarin contohnya di Pecalungan ada makanan yang ditemukan lalat dan sebagainya. Saya tidak ingin program bagus seperti MBG ini justru dinodai dengan hal-hal yang tidak baik," tuturnya.
Aspek lain yang ditekankan adalah keterlibatan tenaga ahli gizi dalam setiap tahapan program. Menurut Tofani, penyusunan menu tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan nutrisi yang tepat.
"Jangan menggunakan orang yang bukan ahli gizi karena tidak tahu bagaimana menyusun menu dari bahan mentah sampai ke mulut konsumen," kata dia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
