Puasa Saat Hamil: Aman atau Berisiko bagi Ibu dan Janin?
--BeritaRiau.com
RADARPEKALONGAN.CO.ID - Puasa Ramadan menjadi momen ibadah yang dinantikan banyak orang, termasuk perempuan yang sedang hamil. Namun, kondisi kehamilan membuat tubuh mengalami perubahan besar, baik dari segi fisik maupun kebutuhan nutrisi. Karena itu, muncul pertanyaan apakah puasa selama kehamilan tergolong aman atau justru menimbulkan risiko bagi ibu dan janin.
Kehamilan menuntut tubuh ibu bekerja lebih keras untuk menopang pertumbuhan janin. Kebutuhan energi, cairan, dan zat gizi meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Saat berpuasa, pola makan berubah drastis karena asupan makanan dan minuman hanya dilakukan pada waktu sahur dan berbuka. Perubahan ini dapat memengaruhi keseimbangan nutrisi apabila tidak direncanakan dengan baik.
Dari sisi medis, puasa saat hamil tidak selalu berbahaya, tetapi juga tidak selalu aman. Faktor utama yang menentukan adalah kondisi kesehatan ibu hamil itu sendiri. ibu hamil yang memiliki kondisi tubuh stabil, tidak mengalami keluhan kehamilan berat, dan memiliki hasil pemeriksaan kehamilan yang baik umumnya masih dapat menjalani puasa dengan pengawasan.
Namun, risiko dapat muncul apabila kebutuhan nutrisi harian tidak terpenuhi. Selama kehamilan, tubuh memerlukan zat gizi penting seperti protein, zat besi, asam folat, serta vitamin dan mineral lainnya. Jika asupan ini berkurang karena porsi makan yang tidak mencukupi atau pilihan makanan yang kurang tepat, ibu hamil berisiko mengalami kelelahan, penurunan daya tahan tubuh, hingga anemia.
Selain nutrisi, kecukupan cairan juga menjadi perhatian utama. Puasa dalam durasi panjang berpotensi menyebabkan tubuh kekurangan cairan, terutama jika ibu hamil kurang minum saat sahur dan berbuka. Dehidrasi pada ibu hamil dapat menimbulkan keluhan seperti pusing, lemas, hingga gangguan konsentrasi. Dalam kondisi tertentu, dehidrasi juga dapat memengaruhi aliran darah ke plasenta.
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah penurunan kadar gula darah. Ibu hamil yang berpuasa tanpa persiapan dapat mengalami hipoglikemia, yang ditandai dengan rasa lemas, gemetar, dan keringat dingin. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas ibu, tetapi juga dapat berdampak pada kenyamanan janin dalam kandungan.
Meski demikian, tidak sedikit ibu hamil yang tetap dapat berpuasa dengan kondisi tubuh yang baik. Hal ini biasanya didukung oleh pola makan yang teratur, menu sahur dan berbuka yang bergizi seimbang, serta aktivitas fisik yang tidak berlebihan. Istirahat yang cukup juga berperan penting dalam menjaga stamina selama berpuasa.
Sebaliknya, ibu hamil dengan kondisi tertentu seperti tekanan darah rendah, diabetes gestasional, gangguan pencernaan, atau riwayat kehamilan bermasalah sebaiknya lebih berhati-hati. Pada kondisi ini, puasa dapat memperbesar risiko komplikasi sehingga dianjurkan untuk menunda puasa demi menjaga kesehatan.
Puasa saat hamil dapat aman atau berisiko tergantung kondisi masing-masing ibu. Keputusan untuk berpuasa sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keinginan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan kesehatan ibu dan janin. Konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah bijak agar ibu hamil dapat menjalani Ramadan dengan aman dan tenang.
Selain kondisi kesehatan, usia kehamilan juga berpengaruh terhadap kemampuan ibu hamil menjalani puasa. Pada trimester pertama, sebagian ibu hamil masih mengalami mual, muntah, dan penurunan nafsu makan. Kondisi ini dapat menyulitkan pemenuhan kebutuhan nutrisi saat waktu makan terbatas. Oleh karena itu, banyak tenaga medis menyarankan agar ibu hamil trimester awal lebih berhati-hati dan tidak memaksakan diri berpuasa.
Memasuki trimester kedua, kondisi tubuh ibu hamil umumnya mulai lebih stabil. Keluhan mual biasanya berkurang dan nafsu makan meningkat. Pada fase ini, sebagian ibu hamil dinilai lebih mampu beradaptasi dengan pola puasa, asalkan asupan gizi tetap tercukupi. Sementara pada trimester ketiga, kebutuhan energi kembali meningkat karena pertumbuhan janin berlangsung pesat. Puasa pada fase ini tetap memungkinkan, tetapi memerlukan pengawasan lebih ketat.
Pengelolaan menu sahur dan berbuka menjadi kunci penting agar puasa tidak berdampak negatif. Ibu hamil disarankan memilih makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serta serat agar energi dapat bertahan lebih lama. Konsumsi sayur dan buah juga membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral selama puasa. Selain itu, pembatasan makanan tinggi gula dan lemak perlu dilakukan agar tubuh tidak mudah lemas.
Pola minum yang teratur juga perlu diterapkan. Ibu hamil dianjurkan membagi waktu minum air putih sejak berbuka hingga sahur. Langkah ini membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mengurangi risiko dehidrasi. Mengonsumsi minuman berkafein sebaiknya dibatasi karena dapat meningkatkan pengeluaran cairan dari tubuh. (Zoy)
Sumber : World Health Organization (WHO)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
