banner honda Juli 2026

Migor Langka, Pemkab Kewalahan

Migor Langka, Pemkab Kewalahan

**Harga Kepokmas Diklaim Masih Stabil

BATANG - Kelangkaan stok minyak goreng (migor) curah dan melonjaknya harga migor kemasan masih menjadi permasalahan di banyak daerah secara nasional. Pemkab Batang bahkan mengaku kewalahan mengatasi masalah ini.

Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Batang, Lani Dwi Rejeki mengatakan, kelangkaan minyak goreng curah dan mahalnya minyak goreng kemasan masih menjadi permasalahan yang dikeluhkan masyarakat.

"Masalah kelangkaan minyak goreng ini sudah menjadi isu nasional, dan tidak hanya terjadi di Batang, namun seluruh Indonesia. Pak Bupati Batang sudah perintahkan ke dinas terkait yakni Disperindagkop untuk menggelar operasi pasar dan sebagainya," katanya.

Sidak dan operasi pasar, kata dia, sudah dilakukan oleh kepala daerah dan instansi terkait. Pihaknya pun belum menemukan adanya praktik penimbunan minyak goreng di wilayahnya.

"Pak Bupati maupun dinas terkait sudah turun langsung ke lapangan melakukan sidak terkait adanya kelangkaan minyak goreng. Akan tetapi, kami belum menemukan adanya informasi praktik penimbunan minyak goreng di Kabupaten Batang," terangnya.

Dijelaskan dia, Disperindagkop sudah mengambil langkah dengan menggandeng beberapa pihak untuk menggelar operasi pasar di beberapa kecamatan secara bergilirian.

"Kalau ditanya akan sampai kapan kelangkaan ini terjadi, ya bergantung pemerintah pusat bagaimana. Kami di daerah juga sudah berupaya, dan kami tidak mengharapkan masalah ini terus berlarut larut. Kami sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemprov pun tidak bisa berbuat apa apa. Karena kelangkaan ini terjadi se Jawa Tengah," tuturnya.

Untungnya, lanjut Lani, untuk operasi pasar Pemkab Batang mendapat dukungan penuh dari Pemprov Jateng, dan dibanding daerah lain Batang sudah lebih dari mencukupi.

Sebelumnya, Bupati Batang Wihaji, bersama Disperindagkop melakukan sidak minyak goreng curah di Pasar Batang dan Pasar Subah, Jumat 18 Maret 2022.

Hal itu dipicu dengan menghilangnya minyak goreng curah di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Batang menyusul penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Menteri Perdagangan sebesar Rp 14.000.

"Saya ini lagi pusing, mulai pukul 00.00 WIB ditetapkan untuk HET curah Rp 14 ribu. Tapi dilapangan sudah tidak ada minyak goreng curah," kata Wihaji.

Kalau pun ada, kata Wihaji, harganya naik luar biasa, bisa mencapai Rp 20 ribu per liter.

"Kulakannya Rp296 ribu untuk 16,5 kilogram, kalau dijual minimal Rp 19 ribu. Kalau mencari untung untuk bungkus plastik dan sebagainya tidak masuk akal dan bakul rugi. Oleh karena itu, kami pastikan menindaklanjuti dengan bersurat ke Pemprov Jateng untuk bisa dilakukan oparasi pasar," katanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: