Pasien Umum di RS Rendah
**RS Gelorakan Tagline "Jangan Takut Berobat Ke Rumah Sakit"
KARANGANYAR - Pandemi Covid-19 berimbas pada keengganan masyarakat untuk berobat di rumah sakit. Warga merasa takut terpapar virus corona atau 'dicovidkan' jika berobat di rumah sakit. Seiring turunnya kasus Covid-19 di Kabupaten Pekalongan, masyarakat saat ini mulai berobat lagi ke rumah sakit. Meskipun peningkatannya belum banyak.
"Pasien umum mulai agak meningkat. Walaupun peningkatannya sedikit. Sekitar 40-an persen. sebelumnya paling 11 sampai 15 persen. Kamar sih masih sepi, tapi mulai ada pasiennya," terang Plt Direktur RSUD Kajen, dr Rosik Budiono Sp PD FINASIM, Selasa (14/9/2021) kemarin.
Dikatakan, meskipun sudah ada penurunan kasus Covid-19, pengunjung (besuk) pasien di rumah sakit belum diperbolehkan. "Pengunjung pasien dari Kemenkes juga belum memperbolehkan. Belum boleh ada jam besuk," kata dia.
Ditandaskan, pihak rumah sakit saat ini menggelorakan tagline "jangan takut berobat ke rumah sakit". Pasalnya, petugas sudah divaksin semua. "Kita juga pakai standar keamanan dan prokes," tandasnya.
Ditambahkan, pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD Kajen saat ini hanya ada satu orang. "Pokoknya dibandingkan pada saat kasus Covid tinggi itu sekarang sudah agak terisi sih. Sebelumnya waktu Covid meningkat, pasien umum paling 11 sampai 15 persen. Sekarang sudah 30-an. Sebelum Covid bisa sampai 70-an," imbuh dia.
Sebelumnya diberitakan (Radar, 22/7/2021), Kepala Desa Tenogo, Kecamatan Paninggaran Agus Susilo, mengakui, pada saat kasus Covid-19 tinggi, banyak warga yang memilih berobat di rumah. Ada beberapa alasan warga memilih hal itu. Di antaranya rumah sakit saat itu penuh dan rasa takut warga untuk ke rumah sakit.
"Banyak warga saat itu ketakutan ke rumah sakit karena memercayai informasi hoaks di media sosial yang katanya kalau ke rumah sakit akan di-Covid-kan," ujar dia.
Dampaknya, pada saat itu banyak warga meninggal di rumah akibat penyakit yang dideritanya. Bahkan, jika satu anggota keluarga sakit, anggota keluarga lainnya banyak juga yang ikut sakit.
Masyarakat diminta agar tidak mudah percaya terhadap informasi-informasi yang menyebutkan bahwa rumah sakit maupun para tenaga kesehatan kerap meng-Covid-kan masyarakat, sehingga membuat grafik angka Covid meningkat. Informasi semacam itu adalah tidak benar dan perlu diluruskan supaya tidak ada kesalahpahaman yang dampaknya terhadap kendornya protokol kesehatan.
Hal itu ditegaskan Kepala Rumah Sakit Kesesi, dr Ryan Ardana Putra. Ia mengatakan, munculnya rumor semacam itu mungkin karena banyak dari masyarakat yang OTG (orang tanpa gejala) dan baru diketahui terpapar ketika mereka terjaring operasi yustisi dan harus menjalani test swab. Dan saat hasil test swab dinyatakan positif, mereka juga masih tidak yakin serta mengira cuma akal-akalan semata karena tidak merasakan gejala seperti sesak nafas.
"Covid itu memang ada, bukan hoaks. Kita dari nakes itu tidak mengcovidkan orang itu tidak. Diswab hasilnya positif ya memang positif, tidak harus dengan sesak nafas. Kadang-kadang ada gejala lain seperti misal panas, kemudian seperti diare, dan nggreges-nggreges, mual-mual, ternyata setelah diswab hasilnya positif Covid. Ndak usah khawatir, kita dokter itu tidak akan seperti itu (mengcovidkan yang tidak positif Covid, red)," tandas dia.
Sebagai seorang dokter, dirinya juga rutin melakukan swab. Saat kondisi tubuh drop karena flu biasa, jika diswab pun akan negatif jika memang tak terpapar virus corona. "Kadang saat flu biasa pas diswab ya hasilnya negatif karena memang tidak terpapar virus corona. Jadi jangan takut dicovidkan. Tenaga kesehatan tidak mungkin melakukan hal itu," tandas dia. (had)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
