PTM Dimulai, Patuhi Prokes!
*Masuk Kelas, Langsung Ujian
KAJEN - Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dan simulai PTM diberlakukan di sejumlah sekolah di Kabupaten Pekalongan, Senin (6/9/2021) hari ini. Secuil asa di tengah pandemi untuk keberlangsungan PTM kedepannya. Oleh karena itu, satuan pendidikan diminta menaati aturan yang ada. Jangan sampai PTM terbatas dan simulasi PTM ini justru menjadi simalakama dengan memunculkan klaster baru di sekolahan.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Haryanto Nugroho, Minggu (5/9/2021), menyatakan, persiapan untuk PTM terbatas/simulasi PTM yang dimulai Senin hari ini sudah siap semuanya. Untuk jenjang SMA/SMK sederajat, ada enam sekolah yang melaksanakan PTM terbatas. Yakni, SMAN 1 Kedungwuni, SMAN 1 Bojong, SMAN 1 Kajen, SMKN 1 Kedungwuni, SMKS Maarif NU Tirto, dan SMKN 1 Sragi. PTM terbatas tingkat SMA ini telah dimulai sejak 1 September 2021.
Sementara itu, untuk jenjang pendidikan dasar (TK, SD, SMP) ada 58 sekolah. Dengan rincian, ada enam sekolah melaksanakan PTM terbatas, yakni SMPN 1 Lebakbarang, SMPN 1 Petungkriyono, SMPN 1 Talun, SMPN 1 Kajen, SMPN 1 Bojong, SMPN 1 Wonopringgo. Sisanya melaksanakan simulasi PTM.
"Kita sudah siap semua. Tanggal 6 September ini sesuai kalender pendidikan para siswa mengikuti penilaian tengah semester. Sehingga diharapkan, selain kegiatan PTM berjalan lancar, adik-adik yang mengikuti penilaian tengah semester bisa mengikuti secara tenang, nyaman, dan tentu dalam kondisi yang baik dan sehat," ungkap Haryanto.
Ditandaskan, pihaknya sudah memenuhi kriteria '5 siap' yang disampaikan Gubernur. Baik siap daerah, siap sekolah, siswa, ortu/wali, dan siap yang lainnya.
Yang 6 September itu, kata dia, bukan hanya sekolah negeri. Tapi ada sekolah swasta juga yang diambil.
"Satuan pendidikan kita minta untuk persiapannya betul-betul maksimal. Kami minta ruang kelas dibersihkan. Karena lama tidak terpakai kan kotor. Jadi itu penting juga untuk dibersihkan. Kemudian cek kembali sarana prasarana prokes, baik itu tempat cuci tangan, sabun, handsanitizer, termasuk penyemprotan disinfektan ruang-ruang yang akan digunakan. Semua kami minta untuk mempersiapkan itu," ujar dia.
Untuk vaksinasi guru juga sudah dilakukan. Pemetaan warga satuan pendidikan (pendidik, siswa, dan sebagainya) juga dilakukan. Yang pernah punya riwayat penyakit (komorbid), dan yang kondisinya masih sakit, yang itu sekiranya rentan untuk mengikuti PTM disarankan untuk sementara pembelajaran jarak jauh dulu.
"Termasuk memastikan siswa terkait keberangkatan sampai kepulangan. Dari mulai dia berkendara, atau diantar wali, atau yang menggunakan transportasi umum, sehingga antisipasinya harus lebih. Itu harus dipetakan. Persiapan sampai segitu," katanya.
Untuk pelaksanaan, taati hal-hal yang sudah diatur dalam pedoman teknis. Untuk durasi belajar maksimal 2 jam untuk SD. Jumlah siswa yang masuk masih dibatasi maksimal 50 persen. Yang SD hanya maksimal dua rombel. Untuk SMP, terutama yang sudah pernah uji coba PTM, sehingga nanti PTM terbatas bisa 50 persen dari seluruh jumlah siswa (baik kelas 7,8,9). Untuk yang masih simulasi, untuk SMP, baru satu kelas atau satu tingkat yang masuk (bisa kelas 7,8, atau 9. Salah satu, red). Kemudian untuk tingkat TK atau PAUD, maksimal satu kelas 5 siswa. SD 14 siswa. SMP 16 siswa. Itu per ruang kelas.
"Kantin belum boleh buka. Siswa diwajibkan bawa bekal. Tidak ada waktu istirahat. Di kelas diberikan waktu makan. Jadi tidak boleh keluar dan masih dalam pengawasan guru," tandasnya.
Termasuk penyediaan masker cadangan. Karena mungkin ada yang lupa, atau maskernya sudah rusak. Itu sekolah wajib menyediakan.
"Kalau nanti di tengah jalan ada kasus, kegiatan PTM di sekolah itu akan kami hentikan. Untuk nanti ditindaklanjuti oleh tim satgas Covid-19," tegasnya.
Orang tua menyambut hangat kegiatan PTM, meskipun masih terbatas. Para orang tua mengakui dengan pembelajaran daring sangat merepotkan para orang tua. Anak pun tidak maksimal dalam memahami pembelajaran lewat online.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
