PTM Terbatas Dihentikan Sementara
KAJEN - Guna menekan penyebaran virus Corona di satuan pendidikan, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas pada Paud, SD, SMP, dan Pendidikan Non Formal (PNF) di Kabupaten Pekalongan dihentikan sementara. Penghentian sementara PTM terbatas diberlakukan sejak Kamis (17/2/2022) hari ini hingga Rabu (23/2/2022).
Penghentian sementara PTM terbatas ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor: 443.1/00571 tentang Kegiatan PTM Terbatas Pada Paud, SD, SMP, dan PNF Pada Masa PPKM Level 2 Di Kabupaten Pekalongan. SE itu ditandatangani Sekda M Yulian Akbar selaku Wakil Ketua 6 Satgas Penanganan Covid Kabupaten Pekalongan, Rabu (16/2/2022).
Dalam SE itu disebutkan, selama penghentian sementara PTM terbatas, maka peserta didik melaksanakan PJJ dari rumah. Kepala sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan tetap melaksanakan tugas sesuai penjadwalan yang diatur oleh masing-masing satuan pendidikan.
Kabid Dikdas Dindik Kabupaten Pekalongan Aji Suryo, kemarin, membenarkan SE tersebut. Menurutnya, penghentian sementara PTM terbatas untuk mencegah penyebaran Covid di tingkat satuan pendidikan. Karena lonjakan kasus di Kabupaten Pekalongan cukup signifikan.
"Penghentian selama tujuh hari, dari tanggal 17 hingga 23 Februari 2022. Diharapkan juga bisa memutus mata rantai penyebaran Covid," kata dia.
Disebutkan, PTM terbatas dilaksanakan dengan jumlah peserta didik maksimal 50 persen dari kapasitas ruang kelas, mulai berlaku pada tanggal 24 Februari 2022. Dengan ketentuan, orang tua/wali diberi pilihan untuk mengizinkan anaknya mengikuti PTM terbatas atau PJJ.
"Kepala sekolah harus melakukan pengawasan untuk memastikan semua peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, serta semua pihak yang berada di satuan pendidikan saat berlangsung PTM terbatas menerapkan prokes dengan ketat," ujarnya.
Penghentian sementara PTM pun disambut beragam oleh masyarakat. Namun sebagian besar orang tua yang dihubungi Radar berharap kedepan PTM bisa segera berjalan normal. Sebab, tanpa pembelajaran tatap muka anak-anak tertinggal jauh dalam pelajarannya.
"Jika PJJ lagi yang stres orang tuanya. Anak-anak juga tertinggal dalam menangkap pelajaran yang ada," keluh Siti (38), warga Desa Karangsari, Kecamatan Karanganyar.
Beberapa guru pun ingin PTM berjalan normal. Karena karakter anak dan kemampuan dalam menangkap pelajaran sudah berbeda sejak ada kebijakan PJJ.
"Semoga Covid ini segera hilang. Kasihan anak-anak. Saya ngajar kelas 5 SD saja kualitasnya sekarang beda jauh dibandingkan sebelum ada Corona. Anak kelas 5 SD perkalian saja banyak yang ndak ngerti," ungkap salah satu guru. (had)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
