Relawan 'Door To Door' Edukasi Warga
*Agar Mau Vaksinasi dan Patuhi Prokes
BOJONG - Animo masyarakat untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 cukup tinggi. Meski demikian, di pelosok desa masih ada warga yang takut untuk divaksin dengan berbagai alasannya. Salah satu warga Desa Kalipancur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, mengaku tidak mau divaksin karena takut jarum suntik.
"Gak mau vaksin. Aku takut jarum suntik. Kalau ada apa-apa kamu mau tanggung jawab?", ungkapnya dengan nada tinggi saat diedukasi dan hendak diberi masker serta leaflet oleh relawan tim daerah Risk Communication and Community Engagement (RCCE) Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Kabupaten Pekalongan, Sabtu (28/8/2021). Vaksinasi di desa ini sendiri akan dilaksanakan hari Rabu, 1 September 2021, di Balai Desa Kalipancur.
Menanggapi penolakan warga tersebut, relawan RCCE, drh Mu'tasim Billah, mengatakan, takut atau fobia terhadap jarum suntik adalah hal yang wajar dan memang ada yang mengalami hal demikian. Namun, Mu'tasim berharap agar warga tidak melakukan penolakan secara berlebihan.
Mu'tasim mengkhawatirkan kondisi warga yang tidak mau vaksin. Jika terpapar Covid-19 dan mengalami badai sitokin seperti yang dialami Deddy Corbuzier bisa menyebabkan kematian.
"Efek sitokin bisa merusak organ kita dan mengakibatkan kegagalan fungsi organ yang menyebabkan kematian," ungkapnya.
Mu'tasim juga menceritakan apa yang dialami artis Deddy Corbuzier bisa menimpa siapa saja, khususnya pada masyarakat yang tidak mau melakukan vaksinasi. Mu'tasim menceritakan kisah Deddy Coubuzier yang sudah dinyatakan negatif Covid-19, tetapi tiba-tiba mengalami badai sitokin yang menyebabkan dirinya kritis dan hampir meninggal. Oleh karena itu, Mu'tasim berharap kepada masyarakat yang takut atau fobia terhadap jarum suntik untuk melawan rasa takut tersebut. "Disuntik vaksin merasa sakit dan menjadi demam adalah hal yang wajar. Itu berarti vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh bekerja. Badan kita yang menerima vaksin akan membentuk antibodi sehingga terjadi penolakan dan pergolakan imun tubuh yang bisa menyebabkan demam dan nyeri pada bagian yang disuntik, tetapi hal tersebut wajar terjadi dan harus dihadapi. Jadi jangan berlebihan menolaknya," ungkap Mu'tasim.
Mu'tasim menyampaikan harapannya kepada masyarakat yang masih belum percaya adanya Covid-19 dan menganggapnya rekayasa, agar berfikir lebih realistis dan memikirkan kondisi riil saat ini. Yakni, Covid-19 telah mewabah dimana-mana dan bisa menyerang siapa saja.
Mu'tasim juga berharap masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang menyesatkan atau hoaks. Seperti orang yang divaksin dapat dipantau pihak asing karena vaksin mengandung chip, atau setelah divaksin jika ditempelkan uang logam jadi menempel, dan hoaks lainnya. Mu'tasim juga menyesalkan hoaks atau informasi yang menyesatkan seolah terus berkembang tiada henti seperti diproduksi untuk kepentingan tertentu.
Koordinator relawan RCCE Desa Kalipancur, Kuwati, menyampaikan, penolakan yang dilakukan warga Desa Kalipancur menurutnya sudah jauh menurun. Kuwati mengatakan, sudah banyak warga di Kalipancur yang antusias mengikuti vaksinasi. Hal tersebut terbukti dari pelaksanaan vaksinasi tahap pertama yang ditarget mencapai 200 warga justru melebihi target hingga 220 warga. Bahkan ada beberapa warga yang sudah mengantri tetapi tidak dapat dilayani karena stok vaksin yang dibawa petugas sudah habis.
Kuwati juga menyampaikan karena kejadian di vaksinasi tahap pertama tersebut banyak warga yang jauh-jauh hari mendaftarkan diri mengikuti vaksinasi tahap kedua yang akan dilakukan hari Rabu, 1 September 2021 di Balai Desa Kalipancur. Kuwati mengaku bersama rekan-rekan relawan RCCE di Desa Kalipancur telah melakukan sosialisasi 'door to door' kepada warga Desa Kalipancur, sehingga saat mobil edukasi RCCE Kabupaten Pekalongan tiba di desanya, Kuwati mengarahkan kegiatan mobile edukasi RCCE dilakukan di dusun pinggiran Desa Kalipancur yang letaknya jauh dari balai desa.
Saat menyuarakan ajakan vaksinasi kepada warga, Kuwati juga sempat didatangi warga yang meminta vaksinasinya diundur karena warga di dusun tersebut yang kebanyakan berprofesi sebagai petani masih banyak yang melakukan panen dan menjemur gabah. Menanggapi hal yang disampaikan warga tersebut, Kuwati menyampaikan bahwa program vaksinasi di Balai Desa Kalipancur adalah program pemerintah dan gratis.
"Kalau warga berharap seperti itu belum tentu petugas vaksinasinya tersedia setelah warga panen dan menjemur gabah. Kalau menuruti kehendak warga yang satu dan yang lain bisa berbeda-beda", tutur Kuwati. Oleh karena itu, Kuwati mengimbau kepada warga dusun tersebut agar meluangkan waktu sebentar untuk vaksin, setelah itu kembali beraktifitas menjemur gabah.
"Jangan takut efek vaksinnya misalnya setelah vaksin menjadi lemas, sakit dan tidak bisa bekerja menjemur gabah, karena sebelum divaksin warga akan diskrining kondisi kesehatannya terlebih dahulu dan setelah vaksin juga akan diobservasi terlebih dahulu, jadi jangan takut. Luangkan waktu sebentar untuk vaksin. Insya Allah aman," tutur Kuwati.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
