Relokasi Gagal, Warga Simonet Kecewa
*Abrasi Kian Parah, Pemukiman Semakin Rusak
WONOKERTO - Abrasi di Dukuh Simonet, Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan kian parah. Pemukiman warga rusak dihajar abrasi dan banjir rob. Hanya 30 persen penduduk setempat yang bertahan di pemukiman yang kerap terendam banjir itu. Sebagian besar warga lainnya memilih mengontrak rumah di tempat yang lebih aman, atau menumpang sementara di rumah kerabat sembari menunggu proses relokasi dilakukan pemerintah.
"Sebagian warga saat ini ada yang ngontrak rumah bagi yang punya duit. Ada yang numpang di rumah saudara sambil menunggu relokasi. Eh relokasinya ndak jadi bagaimana nasib warga saya pak. Sangat memprihatinkan sekali," ungkap tokoh masyarakat desa setempat, Joyo, kemarin siang.
Harapan warga setempat untuk direlokasi pun kian suram. Pasalnya, pada saat kunjungan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke desa itu baru baru ini, ada informasi jika relokasi ke lahan desa gagal.
"Relokasi gagal. Ini kami ketahui saat Bupati Fadia meninjau calon lahan untuk relokasi. Gagalnya karena lahannya itu milik desa. Sedangkan yang dibutuhkan tanah itu harusnya milik pemda. Ndak boleh secara aturan katanya," ujar dia.
Padahal, kondisi rob di perkampungan di pesisir ini semakin parah. Hampir sebagian besar pemukiman terendam banjir rob. Abrasi pun kian mengkhawatirkan.
"Rob tambah tinggi. Warganya juga kian berkurang. Saat ini tinggal 30 persen. Masih tinggal 20-an KK (kepala keluarga)," ujar dia.
Pasalnya, kondisi rumah di Simonet banyak yang hancur. Bahkan banyak rumah yang sudah ditinggal pemiliknya karena rusak digempur abrasi.
"Banyak rumah kemasukan pasir air laut. Abrasi kian ke selatan, saat ini mendekati bangunan musala," terang dia.
Dikatakan, sebagian besar warga ngontrak rumah bagi yang punya duit. Ada yang numpang di rumah saudara sambil menunggu relokasi. Namun, dengan gagalnya relokasi harapan warga untuk hidup di tempat lebih aman sirna.
"Sumber mata pencaharian warga juga banyak yang hilang. Di sini mayoritas petani tambak dan kebun melati. Ada 20 hektar lebih tambak dan kebun melati hilang. Dulu di sini sentranya melati. Mayoritas tambaknya bandeng," tutur dia.
Dengan keadaan seperti itu, banyak warga Simonet yang saat ini jadi pengangguran, atau kerja serabutan untuk bertahan hidup. "Mau kerja apa kondisi seperti ini serba sulit semua. Lokasinya terendam air semua akhirnya kebingungan. Kondisinya memprihatinkan sekali," imbuh dia.
Sebelumnya diberitakan, sekitar 1 Km daratan di Pulau Simonet di Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, hilang tergerus abrasi.
Akibatnya, banyak tambak dan kebun melati lenyap menjadi lautan. Warga pun banyak bekerja serabutan untuk bertahan hidup akibat mata pencaharian pokok mereka hilang.
"Saya dulunya petani tambak. Saya punya tambak sekitar satu hektare. Kadang saya budidaya udang, kadang bandeng. Namun kini sudah hilang akibat abrasi," tutur Suroso (55), warga Dukuh Simonet, Jumat (26/3/2021).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
