iklan banner Honda atas

Serangan Hama, Petani Padi Angkat Bendera Putih

Serangan Hama, Petani Padi Angkat Bendera Putih

**Hama Tak Henti, Kekeringan Menanti

SRAGI - Nasib petani padi di Kabupaten Pekalongan kian terpuruk. Satu-dua petani bahkan angkat bendera putih. Serangan hama dan penyakit tanaman tak henti. Kekeringan pun mengancam.

Diyon, petani dari Desa Gebangkerep, Kecamatan Sragi, kemarin, mengatakan, serangan hama dan penyakit tanaman masih jadi persoalan klasik yang terus menghantui petani. Saat ini tanaman padinya terserang hama wereng dan sundep. Ia pun pesimis hasil panenannya nanti akan bagus.

"Tahun ini remuk, mbuh hasilnya nanti seperti apa. Ini diserang wereng dan sundep. Tanaman berusia 3 bulanan. Sudah ada yang meratak," keluhnya.

Dikatakan, serangan hama wereng dan sundep itu ada sejak awal tandur. Petani, kata dia, mengobatinya dengan pestisida. Namun serangan itu tak juga sirna.

"Mulai awal tandur diserang wereng dan sundep. Ada yang sampai sekarang sudah nyemprot pindo (dua kali), ping telu (tiga kali). Tergantung parah tidaknya tingkat serangan," terang dia.

Padahal, harga obat-obatan pertanian terus naik. Kenaikan paling tinggi untuk jenis herbisida.

"Saya beli obat wereng yang harganya Rp 195 ribu, sebelumnya Rp 185 ribu. Naiknya tidak terlalu tinggi. Kisaran Rp 15 ribu untuk obat wereng. Sing ganti rego kui obat suket. Yang tadinya sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu sekarang jadi Rp 125 ribu hingga Rp 130-an ribu," keluhnya.

Diyon sendiri mengaku sudah menyemprot obat wereng dua kali. Musim tanam sebelumnya, ia menyemprot tiga kali karena musim lalu tingkat serangannya lebih parah.

Selain serangan hama wereng dan sundep, petani di desanya juga mulai kesulitan air. Pasalnya, debit saluran irigasi kian mengecil seiring hujan yang tak turun sepekan terakhir ini. Akibatnya pasokan air tak mencukupi kebutuhan hampir seluruh hamparan sawah di wilayah itu.

"Aliran air kitir-kitir dirayah wong okeh akhire padu tok," ungkapnya.

Petani terpaksa menyewa jasa penyedot air agar sawahnya tak mengering. Diyon mengaku untuk mengairi satu iring sawah biaya sewa alkonnnya Rp 100 ribu.

Petani butuh alat penyedot air karena posisi sungai dengan debit masih bagus lebih rendah dari sawah mereka. Ada pula warga yang buat sumur bor. Saat kesulitan air, dengan alkon airnya disedot ke sawah.

"Ada sawah yang tidak diurusi. Dijarke. Karena tidak sanggup banyoni adoh. Kedua tanaman rusak parah diserang wereng dan sundep. Sawahnya ditelantarkan saja. Dianggap sudah gagal panen," ujar dia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: