iklan banner Honda atas

Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Sentuhan

Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Sentuhan

*Ada 735 ABK di Kota Santri

KAJEN - Anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kabupaten Pekalongan cukup banyak. Ada sekitar 735 anak. Ratusan anak ini butuh sentuhan agar bisa bertumbuh kembang dengan baik.

Ketua Pelaksana Forum Serasi Madani Kabupaten Pekalongan, HM Safrudin Huna, kemarin, mengatakan, berdasarkan data di Dinsos, ada sekitar 6500 orang penyandang disabilitas di Kabupaten Pekalongan. Untuk anak berkebutuhan khusus ada 735 anak. Mereka tersebar di 19 kecamatan.

"Jumlah itu bisa lebih, bisa juga kurang. Sampai saat ini Dinsos masih melakukan pendataan ulang. Agar datanya bisa fix," kata Safrudin.

Dikatakan, pemda perlu melakukan deteksi dini anak berkebutuhan khusus. Deteksi dini bisa dilakukan di rumah sakit, jika di rumah sakit itu ada klinik tumbuh kembang anak. Sayangnya rumah sakit pemerintah di Kabupaten Pekalongan belum dilengkapi klinik tumbuh kembang anak. "Dengan adanya klinik tumbuh kembang anak akhirnya ABK-ABK ini bisa dideteksi. Selama ini yang sudah ada baru di RSI Pekajangan. Itu swasta. Kalau swasta pasti ada biaya. Di sana sudah ada psikolognya," ungkap dia.

Untuk itu, hasil dari kegiatan bakti sosial baru-baru ini, pihaknya akan berkolaborasi dengan Dinas P3PKB dan P2KB untuk lakukan deteksi dini ABK di Kabupaten Pekalongan.

"Kebetulan saat kami audiensi ke tempat beliau (Kepala Dinas P3PKB dan P2KB Eko Wigiantoro, red). Beliau ada program untuk itu. Cuma psikolognya masih menunaikan ibadah haji. Belum pulang. Kami akan bekerja sama agar anak berkebutuhan khusus terdeteksi betul. Jika ini bisa berjalan, diharapkan ABK ini bisa teratasi secara bertahap," kata dia.

Forum Serasi Madani Kabupaten Pekalongan juga beraudiensi lagi dengan Komisi IV DPRD Kabupaten Pekalongan. "Ini dari sana sangat membekap apa yang kami lakukan, sehingga harapan kami bisa menjadi kado hari jadi Kabupaten Pekalongan bahwa perbup tentang disabilitas dan abk itu sudah ditandatangani bupati," tandasnya.

Diakuinya, ada orang tua yang masih merasa malu anaknya itu ABK. Sehingga tidak melakukan suatu terapi untuk anaknya. Di samping itu belum ada juga terapisnya yang menangani itu.

"Tujuan kami menyelenggarakan bakti sosial kemarin juga agar orang tua tidak merasa malu meskipun anaknya itu ABK. Jika tidak ditangani secara dini akan lebih parah lagi," katanya.

"Kelihatannya fisiknya sehat, anaknya ganteng ternyata bicaranya sulit. Ada yang hiperaktif. Ini jika tidak ada penanganan khusus. Kasihan anak anak ini," lanjut dia.

Ditambahkan, anak-anak berkebutuhan khusus bisa produktif. Di antara mereka ada yang miliki keahlian khusus. Misalnya, pandai melukis.

"Itu kan butuh sentuhan dari kita-kita yang dituakan. Butuh sentuhan, bimbingan, dan dorongan," ujar dia.

Yang tak kalah penting, lanjutnya, rumah sakit milik pemkab bisa memiliki klinik tumbuh kembang anak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: