iklan banner Honda atas

Simulasi PTM Diperluas

Simulasi PTM Diperluas

**Prokes Jangan Kendor

KAJEN - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan akan memperluas satuan pendidikan yang melaksanakan simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di bulan September 2021 ini. Perluasan simulasi PTM itu berdasarkan hasil evaluasi Dindikbud dengan Satgas Covid-19 kabupaten atas pelaksanaan simulasi PTM dan PTM terbatas sebelumnya.

"Jadi untuk hasil rapat evaluasi, untuk pelaksanaan PTM terutama yang simulasi, Alhamdulillah catatannya baik," ungkap Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Haryanto Nugroho, Senin (20/9/2021).

Sehingga dalam rapat evaluasi itu, untuk sekolah yang sudah melaksanakan simulasi PTM dari tanggal 6 September lalu, mulai 20 September ini ditingkatkan jadi PTM terbatas. Dengan demikian berarti yang melaksanakan PTM terbatas saat ini sejumlah 58 sekolah (SMP, SD, dan TK) (awalnya hanya 8 sekolah).

"Selain itu, yang kedua, bahwa sembari itu sudah kita tingkatkan yang simulasi menjadi PTM terbatas, siswa yang mengikuti PTM di kelas sudah mencapai 50 persen untuk yang PTM terbatas. Kalau yang simulasi dua rombel atau satu tingkat," terang dia.

Pihaknya juga mengusulkan lagi sekolah-sekolah yang akan mengikuti simulasi lanjutan (tahap kedua). "Kita usulkan kemarin, untuk yang SMP, yang semula 19 sekolah atau satu sekolah di masing-masing kecamatan, untuk yang simulasi ini kita usulkan lagi seluruh SMP. Pertimbangannya, sudah diiringi dengan vaksinasi yang digencarkan Dinas Kesehatan bersama TNI/Polri," terang dia.

Untuk yang SD dan TK, pihaknya akan mengambil dua sekolah di masing-masing kecamatan, atau 38 sekolah, sampai 20 persen dari jumlah sekolah yang ada.

"Ini kita mulai untuk yang simulasi berikutnya tanggal 27 September. Sekiranya permohonan tertulis dari masing-masing sekolah sudah masuk, dilengkapi dokumen-dokumen persyaratan, kita nanti lakukan verifikasi, baik itu isian data periksa, termasuk kita akan cek sampling lapangan juga untuk persiapan simulasi berikutnya," kata Haryanto.

Meski hasil evaluasi kemarin sudah bagus, ia menekankan bukan berarti prokesnya nanti jadi kendor. Bahkan harusnya jadi pedoman dan kebiasaan. Baik di kehidupan secara umum maupun di lingkungan sekolah.

"Waktu kita monitor di SMP di wilayah Kecamatan Tirto, ada hal yang menarik. Mungkin bisa dipraktikkan di sekolah lain. Di sana pak camat bersama Forkompimcam, membangun bersama kepala sekolah, bahwa nanti kalau ada pelanggaran prokes di sekolah, misal satu siswa tak mengenakan masker, itu nanti disuruh pulang semua. Supaya merasakan itu tanggung jawab bersama dan saling mengingatkan," ujar dia.

Ditandaskan, saling mengingatkan prokes itu penting. Itu bukan hanya untuk tenaga pendidik, tetapi terhadap siswa.

"Misalnya sekolah memberdayakan siswa-siswa yang aktif di OSIS, PKS, PMR, atau yang lain untuk jadi tim yang mengingatkan siswa lain soal prokes. Karena mungkin kalau guru juga jumlahnya terbatas. Pengawasannya bisa saat siswa akan masuk, dan bahkan saat pulang. Ini bisa digalakkan model begini," kata dia. (had)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: