Diduga Tercemar Limbah, Air Sumur Warga Simbangkulom Berwarna Hitam
BUARAN - Diduga akibat tercemar limbah batik imbas belum kelarnya proyek penataan kawasan Kotaku di Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, sumur-sumur warga di kelurahan itu menghitam. Beberapa air sumur warga di Gang 1, 2, 3, dan 4 berwarna hitam, sehingga tak bisa digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saefudin (47), warga di RT 15 RW 5, mengatakan, sebagian besar warga menggunakan sumur untuk sumber air bersih. Namun air sumur yang merupakan sumber kehidupan warga itu kondisinya kini menghitam.
Untuk konsumsi, ia pakai air isi ulang (air galon). Untuk mandi harus numpang di rumah mertua atau teman.
"Selang seling lah. Kalau ke rumah mertua terus malu. Ke teman terus juga malu. Repotnya kalau kita kan punya istri ya.. Paginya bingung mandinya mau ke mana kita he he," kata dia.
Akibat air sumur berwarna hitam, tandas dia, air itu tidak bisa lagi digunakan untuk mandi dan bersuci. "Sumur tercemar sering terjadi sejak ada proyek itu. Sebelum ada proyek tidak pernah terjadi. Dulunya walaupun ada produksi batik airnya lancar ndak masalah. Semenjak salurannya mampet, airnya tergenang, akhirnya masuk ke sumur-sumur warga yang di sebelah selokan itu," kata dia.
Disinggung apakah tidak pakai air dengan sumber Pamsimas, ia menyebut Pamsimas yang ada di kelurahan sudah macet. Ia mengaku tidak tahu kenapa air Pamsimas macet.
"Saya ndak tahu ya harus lapor ke mana. Makanya diam saja. Kebetulan kemarin ada teman yang saya tunjukkan rumah saya airnya item. Kok dibuat lagu. Kaget juga jenengan-jenengan (wartawan) ke sini," imbuh dia.
Misbahudin (40), warga setempat mengatakan, semenjak ada proyek pembangunan di desa, limbah masuk ke sumur. Saat musim hujan, lanjut dia, setiap kali banjir limbahnya masuk ke sumur.
"Saya untuk mencuci masih pakai air sumur. Air didiamkan dulu beberapa saat baru digunakan untuk mencuci. Untuk kebutuhan masak dan minum saya beli pakai air galon," terang dia.
Menurutnya, air sumur menghitam karena limbah batik masuk ke sumur. "Jika seperti itu terus. Aliran tidak jalan ya ndak bisa digunakan (air sumur)," keluh dia.
Disingung apakah tidak gatal mandi air tercemar limbah, ia mengaku badannya gatal-gatal sehabis mandi air hitam tersebut.
"Kalau mandi airnya keruh ya memang terasa gatal tapi bagaimana lagi karena adanya air seperti itu," katanya pasrah.
Ia mengaku sudah laporan ke staf kelurahan terkait dampak sumur yang kena dampak pembangunan proyek tersebut.
Sementara itu, Ketua RT 20, Ali Syukron, mengaku sudah mendapat laporan dari beberapa warganya terkait sumur yang tercemar limbah tersebut.
"Saya sebagai ketua RT 20 merasa terpanggil karena yang terdampak adalah warga saya. Saya sudah antisipasi untuk cari solusinya agar tak terdampak. Saluran-saluran yang masih tanah kalau kena air limbah itu kan meresap. Saya sudah usahakan untuk tutup dengan dicor," kata dia.
Proyek itu, ujar dia, di antaranya mengerjakan saluran limbah keluarga dan limbah batik. Imbas pembangunan proyek itu, saluran limbah yang lama terbendung, sehingga tidak lancar masuk ke sungai. Akhirnya limbah mencemari sumur-sumur milik warga.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
